Selasa, Februari 16, 2010

The Truly BFF

pendahuluan

aku tahu yang namanya teman tidak boleh menuntut apapun dari sahabatnya. apalagi kalau ternyata dia itu teman yang paling baik dan menarik. tapi... apa aku salah jika meminta dia untuk melakukan sesuatu untukku? sedangkan aku tahu bahwa aku tidak pernah bisa untuk melakukannya. aku meminta hidupku yang hilang, sebagai seorang sahabat, seharusnya dia mengerti bahwa aku tidak ingin hidupku hilang begitu saja. tapi dibalik semua itu, kami memiliki hobi yang sama dan cita-cita yang sama. ingin menjadi penyair.

chapter 1


seharusnya aku mengerti apa yang diinginkan orangtuaku. hanya saja aku begitu egois dan ingin sekali menentang mereka. mungkin itu yang ada didalam pikiran mereka tentangku. aku egois, karena aku tidak mau pindah sekolah lagi. keluargaku akan pindah dari kota ini. kota yang sudah nyaman bagiku. aku memilih untuk egois karena... aku tidak bisa beradaptasi dengan baik! aku sudah bersekolah disini, memiliki banyak teman, dan aku juga memiliki apa yang aku butuhkan. aku ingat waktu pertama kali aku jadi murid tahun pertama disini aku sama sekali tidak bisa bicara sedikitpun. dan akhirnya... aku membutuhkan waktu satu tahun untuk membuat diriku nyaman bersama teman-temanku. waktu yang sangat lama tentu. tapi itu bukan masalah kalau pada akhirnya mereka semua sangat membutuhkan aku. aku tidak pintar, aku juga tidak kaya, tidak cantik, dan tidak langsing. otakku hanya menerima pelajaran yang aku suka saja, kalau aku benci pada guru mata pelajaran itu, aku pasti tidak repot-repot untuk mempelajarinya lebih jauh, seperti matematika. tubuhku juga biasa saja, tidak tinggi tidak pendek, tidak kurus tidak gendut, ditambah kulit yang tidak putih jug atidak hitam makin menambah saja kekuranganku. tapi aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada fisikku. yang penting aku tidak boleh bau badan dan bau mulut didepan orang saja. karena aku paling tidak suka orang yang bau. terkesan jorok. dan aku bisa mempengaruhi teman-temanku untuk melakukan sesuatu. banyak mereka bilang, aku ini seperti laki-laki, tidak suka berdandan dan memiliki kebiasaan laki-laki, suaraku pun seperti laki-laki. aku tidak begitu peduli tentang hal itu, asal ada baju celana saja aku akan memakainya, aku tidak begitu suka memilih - milih baju seperti yang biasa dilakukan orang-orang kalau pergi ke mall. lebih baik aku memakai yang ada saja, karena lebih nyaman. aku juga tidak pernah berambut panjang, karena gerah dan ribet sekali. aku tidak suka hal-hal yang rumit seperti rumus-rumus fisika-kimia. aku lebih suka yang simple seperti bahasa indonesia. dan sepertinya, ada yang tertarik dengan sifatku ini, seorang wanita teman sekelasku, Herly. awalnya aku hanya sekedar "hai" saja, tapi dia mulai mendekati aku, orangnya memang bawel, tapi aku nyaman dengannya. dia cantik dan bersikap sebagaimana seharusnya wanita, kelihatan sekali kalau dia suka warna pink. dari tas, sepatu, gelang, bahkan pernak-pernik kaos kakinya ada yang gambar anjing pink kecil-kecil. salut deh. dan satu lagi, Vian. anak yang gaul dan periang. pakaiannya juga sama sepertiku, tidak peduli warna favorit yang penting nyaman dipakai. tapi dia juga suka memperhatikan penampilannya. dia bisa memakai apapun yang dikenakannya yang serasi dengan wajahnya, walaupun terlihat nyantai, tapi dia juga memilih. aku mulai dekat sama dia sama seperti aku dekat dengan Herly. suatu hari aku sedang duduk-duduk saja didepan kelas dimeja guru bersama Herly (tempat favoritku untuk duduk memang dimeja guru, biasanya aku suka memperlihatkan diri kalau aku sedang duduk dimeja guru sewaktu guru matematika masuk kelas untuk mengajar) Herly tentu saja tidak berani, dia lebih memilih berdiri disampingku. hal-hal yang aku bicarakan dengan dia juga tidak menarik, hanya mengulas film-film yang semalam kami tonton. dan saat itu Vian datang dan ikut mengobrol dengan kami. aku dan Herly tidak merasa bingung, karena meskipun dia tidak pernah bicara panjang lebar dengan kami, dia tetap teman sekelas. aku hanya menganggap bahwa obrolanku dan Herly seru sampai Vian tidak ingin melewatkannya. dan sepertinya Herly juga berpikir seperti itu. dan anehnya, obrolan kami yang tidak seru itu menjadi 'hidup'. aku merasa nyaman sekali dan menikmati pembicaraan yang ini. padahal masih tentang film, tapi kalau melihat Vian yang menceritakan sambil memperagakan apa yang diceritakannya menjadi lebih baik dan mudah dimengerti. selama ini kalau Herly bercerita hanya cerita saja, tapi sepertinya Vian punya cara lain untuk bercerita. dan akhirnya kami pindah duduk dibelakang untuk cerita lagi. Herly duduk didepan kami sendiri dan aku kursi paling belakang bersama Vian. guru matematika tahu kalau aku tidak pernah memperhatikan pelajarannya, jadi dia membiarkanku saja. tapi aku tidak menyangka dia juga akan marah karena Herly dan Vian juga tidak memperhatikan pelajarannya. karena satu alasan. Herly meski tidak begitu pandai pelajaran matematika, tapi dia dikenal sebagai anak yang menghargai guru dan menghormatinya. sedangkan Vian, dia memang pintar pelajaran itu. tapi bukan itu alasannya, karena guru matematika itu rumahnya bersebelahan dengan Vian. dan kalau Vian melakukan hal-hal aneh, pasti akan langsung dilaporkan oleh guru itu. semenjak saat itu, kita bertiga selalu sama-sama dan menjadi sahabat baik.
tapi itu akan berlalu. karena sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju sekolah untuk mengambil surat kepindahanku. sedih sekali rasanya. aku bertemu mereka untuk yang terakhir kalinya, Herly menangis, dia memang suka sekali menangis kalau ada sesuatu yang menyedihkan. aku tahu kalau Vian juga ingin menangis, tapi dia bisa lebih menahan diri dibanding Herly. dia berusaha menghibur Herly, selain karena Herly menangis, dia juga tahu kalau aku benci orang yang menangis. aku melihat Maya teman sekelasku yang lain berkacamata duduk disebelah Herly membelai-belai pundak Herly. sejak kapan dia dekat dengan kita? oh sudahlah mungkin saja dia bisa menjadi penggantiku. walaupun aku tidak mau membayangkan diriku kutu buku seperti dia. dan akhirnya, aku pulang dan tidur untuk mempersiapkan diri bangun pagi-pagi pergi kerumah yang sekarang menunggu untuk keluargaku tempati.

Sabtu, Januari 30, 2010

The Dream

Pendahuluan

Aku tahu apa yang aku inginkan,,,
Aku juga tau apa yang mereka mau,,,
Aku tak keberatan jika mereka lebih memilih aku mati,,,
Karena memang itu yang aku mau..
Tapi.....
bagaimana jika bukan seperti itu yang seharusnya terjadi???
......

chapter 1

Aku lelah sekali jika harus terus menerus berlari seperti ini,,, ingin sekali rasanya aku berhenti sejenak, tapi aku tak bisa jika aku mengingat apa yang mengikutiku sekarang. aku memang tak tahu apa yang sedang mengejarku, tapi aku bisa merasakan hentakan kakinya yang berat,, kasar,, dan dia memegang sesuatu dilengan kirinya sebuah benda yang panjang nya hampir satu meter,, dia membiarkan benda itu digantung lemas menyeret jalan. suaranya membuatku nyeri,,, seperti aspal yang digaruk oleh besi. seolah-olah ia ingin menunjukkan padaku bahwa dia seorang pembunuh sungguhan. sekarang sepertinya aku benar-benar tidak peduli apa aku sudah lelah karena berlari berkilo-kilometer jauhnya,, yang ku tahu aku harus meninggalkan orang itu secepatnya dan pergi mencari bantuan.
sepertinya keinginanku didengar oleh Tuhan,,, karena aku melihat cahaya mobil dari arah depanku,, aku berlari untuk menghampiri mobil itu walaupun aku tahu bahwa mobil itu akan datang kearahku dan aku yakin pengemudinya juga sudah melihatku. "stop! stop!" teriakku, ketika mobil itu mendekat. mobil itupun berhenti,, ternyata pengemudinya seorang wanita. otomatis aku langsung memintanya untuk menolongku. aku mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil pengemudinya dan sambil menarik nafas dalam-dalam karena tenagaku hampir habis waktu berlari, aku berbicara kepadanya. "kumohon tolong aku...." aku merengek kepada wanita itu. diapun turun dari mobilnya dan langsung memegang tanganku.
"ada apa?" tanyanya
"seseorang...ingin...membunuh...ku" aku berbicara terbata-bata
"tenanglah, dimana orang itu?"
"disana"
aku menunjuk kearah aku berlari tadi. sesaat aku bimbang, sambil terengah-engah aku mencari-cari dimana dia. mataku menyusuri jalan dimana aku sedang dikejar-kejar oleh orang itu. tapi dia sudah tidak ada, aku tetap saja penasaran. kuabaikan rasa lelahku dan kakiku yang sudah terasa keram sekali. aku berjalan pelan-pelan siapa tahu aku bisa melihatnya. walaupun aku sangat mengharapkan dia tidak muncul tiba-tiba dan menyerangku. kubuang pikiran-pikiran mengerikan itu dan aku memutuskan untuk tidak mencarinya.
"tidak ada siapa-siapa disana" ujar wanita itu
"tapi dia ada disana tadi!" protesku
mudah saja dia berbicara seperti itu padahal bukan dia yang diincar. aku mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha mendapatkan diriku. karena begitu aku tahu dia tidak ada ternyata seluruh tubuhku mulai terasa sakit seperti habis berolahraga seminggu tanpa jeda. akupun tak sanggup berbicara lagi dan terduduk di kap mobil wanita itu.
"kau tidak menyerah kan?" wanita itu mulai berbicara, aku tidak mengerti maksudnya. tapi kubiarkan saja dia bicara sesukanya dulu dan aku memejamkan mata.
"seharusnya kalau kau tahu sedang dalam bahaya, kau tidak boleh berhenti berlari" aku tidak menyahut, aku tetap membiarkannya bicara walau aku tahu kata-katanya seperti tidak mau aku ikut bersamanya.
"kau akan ikut denganku" dia bicara seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikiranku.
"karena aku sangat membutuhkanmu" aku mulai mendongak, ada apa dengan wanita ini? aku bahkan tidak mengenalnya. apa yang dia maksud dengan 'membutuhkanku'?
"kau tampak bingung. aku tahu, karena kau tidak tahu siapa aku" apakah ada yang salah dengan pendengaranku karena berlari terlalu jauh? sehingga merusak telingaku. karena jelas-jelas aku mendengar wanita ini bicara ngelantur...
"aku tahu siapa yang kaumaksud. dia tidak ingin membunuhmu, tapi hanya mengantarkanmu padaku" wanita itu tertawa,, aku masih terdiam, karena aku mencoba untuk mengerti apa yang dikatakannya, sekilas aku melihat matanya yang tiba-tiba terpancar kilatan aneh, seperti orang yang sangat lapar dan bahagia telah mendapatkan makanan
dan lansung saja tangan wanita itu berubah hitam, rambutnya yang tadi diikat terlepas dari ikatannya dan berubah warna dari hitam menjadi putih. gigi-giginya berubah menjadi taring dan kuku-kukunya memanjang. kulitnyapun berubah pucat dan kehijauan, dan butuh beberapa detik aku baru menyadari bahwa yang kehijauan itu adalah urat-uratnya yang menonjol keluar. dia memakai jubah merah yang akupun tak tahu datangnya darimana. dia mulai menerjangku, sesuatu menghatam perutku dan menarik pingganggku, lalu aku terpental menjauhinya.
"TIDAAAAK!!!!" teriak wanita itu dari jauh begitu aku tahu bahwa dia tidak melakukan apapun terhadapku. aku merasakan tamparan dipipi kanan-kiriku lalu semuanya kembali menjadi terang.