Selasa, Januari 03, 2012

I'LL BACK

Sorry for waiting my written for so long. i'll make a story about love. and really. this is my first time to me to write story like that. i never make love story. as you know and u've read that,  and you'll know what i mean.

so, for a long time i think, i decided to try what i never do. give me support, give me your pray, and i hope i can make it well.

Selasa, Februari 16, 2010

The Truly BFF

pendahuluan

aku tahu yang namanya teman tidak boleh menuntut apapun dari sahabatnya. apalagi kalau ternyata dia itu teman yang paling baik dan menarik. tapi... apa aku salah jika meminta dia untuk melakukan sesuatu untukku? sedangkan aku tahu bahwa aku tidak pernah bisa untuk melakukannya. aku meminta hidupku yang hilang, sebagai seorang sahabat, seharusnya dia mengerti bahwa aku tidak ingin hidupku hilang begitu saja. tapi dibalik semua itu, kami memiliki hobi yang sama dan cita-cita yang sama. ingin menjadi penyair.

chapter 1


seharusnya aku mengerti apa yang diinginkan orangtuaku. hanya saja aku begitu egois dan ingin sekali menentang mereka. mungkin itu yang ada didalam pikiran mereka tentangku. aku egois, karena aku tidak mau pindah sekolah lagi. keluargaku akan pindah dari kota ini. kota yang sudah nyaman bagiku. aku memilih untuk egois karena... aku tidak bisa beradaptasi dengan baik! aku sudah bersekolah disini, memiliki banyak teman, dan aku juga memiliki apa yang aku butuhkan. aku ingat waktu pertama kali aku jadi murid tahun pertama disini aku sama sekali tidak bisa bicara sedikitpun. dan akhirnya... aku membutuhkan waktu satu tahun untuk membuat diriku nyaman bersama teman-temanku. waktu yang sangat lama tentu. tapi itu bukan masalah kalau pada akhirnya mereka semua sangat membutuhkan aku. aku tidak pintar, aku juga tidak kaya, tidak cantik, dan tidak langsing. otakku hanya menerima pelajaran yang aku suka saja, kalau aku benci pada guru mata pelajaran itu, aku pasti tidak repot-repot untuk mempelajarinya lebih jauh, seperti matematika. tubuhku juga biasa saja, tidak tinggi tidak pendek, tidak kurus tidak gendut, ditambah kulit yang tidak putih jug atidak hitam makin menambah saja kekuranganku. tapi aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada fisikku. yang penting aku tidak boleh bau badan dan bau mulut didepan orang saja. karena aku paling tidak suka orang yang bau. terkesan jorok. dan aku bisa mempengaruhi teman-temanku untuk melakukan sesuatu. banyak mereka bilang, aku ini seperti laki-laki, tidak suka berdandan dan memiliki kebiasaan laki-laki, suaraku pun seperti laki-laki. aku tidak begitu peduli tentang hal itu, asal ada baju celana saja aku akan memakainya, aku tidak begitu suka memilih - milih baju seperti yang biasa dilakukan orang-orang kalau pergi ke mall. lebih baik aku memakai yang ada saja, karena lebih nyaman. aku juga tidak pernah berambut panjang, karena gerah dan ribet sekali. aku tidak suka hal-hal yang rumit seperti rumus-rumus fisika-kimia. aku lebih suka yang simple seperti bahasa indonesia. dan sepertinya, ada yang tertarik dengan sifatku ini, seorang wanita teman sekelasku, Herly. awalnya aku hanya sekedar "hai" saja, tapi dia mulai mendekati aku, orangnya memang bawel, tapi aku nyaman dengannya. dia cantik dan bersikap sebagaimana seharusnya wanita, kelihatan sekali kalau dia suka warna pink. dari tas, sepatu, gelang, bahkan pernak-pernik kaos kakinya ada yang gambar anjing pink kecil-kecil. salut deh. dan satu lagi, Vian. anak yang gaul dan periang. pakaiannya juga sama sepertiku, tidak peduli warna favorit yang penting nyaman dipakai. tapi dia juga suka memperhatikan penampilannya. dia bisa memakai apapun yang dikenakannya yang serasi dengan wajahnya, walaupun terlihat nyantai, tapi dia juga memilih. aku mulai dekat sama dia sama seperti aku dekat dengan Herly. suatu hari aku sedang duduk-duduk saja didepan kelas dimeja guru bersama Herly (tempat favoritku untuk duduk memang dimeja guru, biasanya aku suka memperlihatkan diri kalau aku sedang duduk dimeja guru sewaktu guru matematika masuk kelas untuk mengajar) Herly tentu saja tidak berani, dia lebih memilih berdiri disampingku. hal-hal yang aku bicarakan dengan dia juga tidak menarik, hanya mengulas film-film yang semalam kami tonton. dan saat itu Vian datang dan ikut mengobrol dengan kami. aku dan Herly tidak merasa bingung, karena meskipun dia tidak pernah bicara panjang lebar dengan kami, dia tetap teman sekelas. aku hanya menganggap bahwa obrolanku dan Herly seru sampai Vian tidak ingin melewatkannya. dan sepertinya Herly juga berpikir seperti itu. dan anehnya, obrolan kami yang tidak seru itu menjadi 'hidup'. aku merasa nyaman sekali dan menikmati pembicaraan yang ini. padahal masih tentang film, tapi kalau melihat Vian yang menceritakan sambil memperagakan apa yang diceritakannya menjadi lebih baik dan mudah dimengerti. selama ini kalau Herly bercerita hanya cerita saja, tapi sepertinya Vian punya cara lain untuk bercerita. dan akhirnya kami pindah duduk dibelakang untuk cerita lagi. Herly duduk didepan kami sendiri dan aku kursi paling belakang bersama Vian. guru matematika tahu kalau aku tidak pernah memperhatikan pelajarannya, jadi dia membiarkanku saja. tapi aku tidak menyangka dia juga akan marah karena Herly dan Vian juga tidak memperhatikan pelajarannya. karena satu alasan. Herly meski tidak begitu pandai pelajaran matematika, tapi dia dikenal sebagai anak yang menghargai guru dan menghormatinya. sedangkan Vian, dia memang pintar pelajaran itu. tapi bukan itu alasannya, karena guru matematika itu rumahnya bersebelahan dengan Vian. dan kalau Vian melakukan hal-hal aneh, pasti akan langsung dilaporkan oleh guru itu. semenjak saat itu, kita bertiga selalu sama-sama dan menjadi sahabat baik.
tapi itu akan berlalu. karena sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju sekolah untuk mengambil surat kepindahanku. sedih sekali rasanya. aku bertemu mereka untuk yang terakhir kalinya, Herly menangis, dia memang suka sekali menangis kalau ada sesuatu yang menyedihkan. aku tahu kalau Vian juga ingin menangis, tapi dia bisa lebih menahan diri dibanding Herly. dia berusaha menghibur Herly, selain karena Herly menangis, dia juga tahu kalau aku benci orang yang menangis. aku melihat Maya teman sekelasku yang lain berkacamata duduk disebelah Herly membelai-belai pundak Herly. sejak kapan dia dekat dengan kita? oh sudahlah mungkin saja dia bisa menjadi penggantiku. walaupun aku tidak mau membayangkan diriku kutu buku seperti dia. dan akhirnya, aku pulang dan tidur untuk mempersiapkan diri bangun pagi-pagi pergi kerumah yang sekarang menunggu untuk keluargaku tempati.