Sabtu, Januari 30, 2010

The Dream

Pendahuluan

Aku tahu apa yang aku inginkan,,,
Aku juga tau apa yang mereka mau,,,
Aku tak keberatan jika mereka lebih memilih aku mati,,,
Karena memang itu yang aku mau..
Tapi.....
bagaimana jika bukan seperti itu yang seharusnya terjadi???
......

chapter 1

Aku lelah sekali jika harus terus menerus berlari seperti ini,,, ingin sekali rasanya aku berhenti sejenak, tapi aku tak bisa jika aku mengingat apa yang mengikutiku sekarang. aku memang tak tahu apa yang sedang mengejarku, tapi aku bisa merasakan hentakan kakinya yang berat,, kasar,, dan dia memegang sesuatu dilengan kirinya sebuah benda yang panjang nya hampir satu meter,, dia membiarkan benda itu digantung lemas menyeret jalan. suaranya membuatku nyeri,,, seperti aspal yang digaruk oleh besi. seolah-olah ia ingin menunjukkan padaku bahwa dia seorang pembunuh sungguhan. sekarang sepertinya aku benar-benar tidak peduli apa aku sudah lelah karena berlari berkilo-kilometer jauhnya,, yang ku tahu aku harus meninggalkan orang itu secepatnya dan pergi mencari bantuan.
sepertinya keinginanku didengar oleh Tuhan,,, karena aku melihat cahaya mobil dari arah depanku,, aku berlari untuk menghampiri mobil itu walaupun aku tahu bahwa mobil itu akan datang kearahku dan aku yakin pengemudinya juga sudah melihatku. "stop! stop!" teriakku, ketika mobil itu mendekat. mobil itupun berhenti,, ternyata pengemudinya seorang wanita. otomatis aku langsung memintanya untuk menolongku. aku mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil pengemudinya dan sambil menarik nafas dalam-dalam karena tenagaku hampir habis waktu berlari, aku berbicara kepadanya. "kumohon tolong aku...." aku merengek kepada wanita itu. diapun turun dari mobilnya dan langsung memegang tanganku.
"ada apa?" tanyanya
"seseorang...ingin...membunuh...ku" aku berbicara terbata-bata
"tenanglah, dimana orang itu?"
"disana"
aku menunjuk kearah aku berlari tadi. sesaat aku bimbang, sambil terengah-engah aku mencari-cari dimana dia. mataku menyusuri jalan dimana aku sedang dikejar-kejar oleh orang itu. tapi dia sudah tidak ada, aku tetap saja penasaran. kuabaikan rasa lelahku dan kakiku yang sudah terasa keram sekali. aku berjalan pelan-pelan siapa tahu aku bisa melihatnya. walaupun aku sangat mengharapkan dia tidak muncul tiba-tiba dan menyerangku. kubuang pikiran-pikiran mengerikan itu dan aku memutuskan untuk tidak mencarinya.
"tidak ada siapa-siapa disana" ujar wanita itu
"tapi dia ada disana tadi!" protesku
mudah saja dia berbicara seperti itu padahal bukan dia yang diincar. aku mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha mendapatkan diriku. karena begitu aku tahu dia tidak ada ternyata seluruh tubuhku mulai terasa sakit seperti habis berolahraga seminggu tanpa jeda. akupun tak sanggup berbicara lagi dan terduduk di kap mobil wanita itu.
"kau tidak menyerah kan?" wanita itu mulai berbicara, aku tidak mengerti maksudnya. tapi kubiarkan saja dia bicara sesukanya dulu dan aku memejamkan mata.
"seharusnya kalau kau tahu sedang dalam bahaya, kau tidak boleh berhenti berlari" aku tidak menyahut, aku tetap membiarkannya bicara walau aku tahu kata-katanya seperti tidak mau aku ikut bersamanya.
"kau akan ikut denganku" dia bicara seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikiranku.
"karena aku sangat membutuhkanmu" aku mulai mendongak, ada apa dengan wanita ini? aku bahkan tidak mengenalnya. apa yang dia maksud dengan 'membutuhkanku'?
"kau tampak bingung. aku tahu, karena kau tidak tahu siapa aku" apakah ada yang salah dengan pendengaranku karena berlari terlalu jauh? sehingga merusak telingaku. karena jelas-jelas aku mendengar wanita ini bicara ngelantur...
"aku tahu siapa yang kaumaksud. dia tidak ingin membunuhmu, tapi hanya mengantarkanmu padaku" wanita itu tertawa,, aku masih terdiam, karena aku mencoba untuk mengerti apa yang dikatakannya, sekilas aku melihat matanya yang tiba-tiba terpancar kilatan aneh, seperti orang yang sangat lapar dan bahagia telah mendapatkan makanan
dan lansung saja tangan wanita itu berubah hitam, rambutnya yang tadi diikat terlepas dari ikatannya dan berubah warna dari hitam menjadi putih. gigi-giginya berubah menjadi taring dan kuku-kukunya memanjang. kulitnyapun berubah pucat dan kehijauan, dan butuh beberapa detik aku baru menyadari bahwa yang kehijauan itu adalah urat-uratnya yang menonjol keluar. dia memakai jubah merah yang akupun tak tahu datangnya darimana. dia mulai menerjangku, sesuatu menghatam perutku dan menarik pingganggku, lalu aku terpental menjauhinya.
"TIDAAAAK!!!!" teriak wanita itu dari jauh begitu aku tahu bahwa dia tidak melakukan apapun terhadapku. aku merasakan tamparan dipipi kanan-kiriku lalu semuanya kembali menjadi terang.


aku melihat wajah seseorang didepan wajahku, aku baru menyadari bahwa dia adik laki-lakiku, Adam. aku terengah-engah memandangnya, begitu aku lihat wajah cemas dari adikku, aku sadar bahwa aku baru saja berteriak-teriak dan memukulinya. sadarlah aku ternyata aku tadi bermimpi, mimpi yang sangat nyata sekali.
"hei! kau kenapa?! apa yang terjadi?? kau menjerit-jerit meminta tolong dan menendang-nendang.." tanya adikku panik
aku mencoba mendapatkan suaraku kembali. akupun heran mengapa mimpiku bisa menguras tenagaku begini.
"aku hanya... mimpi buruk... tidak apa-apa" sergahku.
aku tahu Adam masih memerhatikanku. wajahnya takut kalau aku tiba-tiba akan berteriak lagi.
"aku tidak apa-apa" aku kembali memberitahunya.
"iya aku tahu. tapi mengapa setiap kau bermimpi selalu teriak-teriak, sih?"
"karena mimpiku buruk"
"kenapa kau selalu bermimpi buruk?"
"aku tidak tahu. mungkin takdir"
dia berhenti bicara, akupun tak mau mengeluarkan tenagaku lebih banyak lagi untuk bicara.
"kau tak apa aku tinggal sendiri?" adam bertanya padaku
"memang kau mau kemana?" aku balik bertanya
"aku kan sedang ujian"
"oh" aku lupa hari ini
"oh ya pergilah. aku tak apa"
"oke. kalau kau butuh aku telepon saja"
"ya"
"bye anna. aku pergi dulu"
adam pun pergi. aku tidak mau memikirkan mimpi-mimpiku lagi. mengalaminya saja sudah membuatku lelah seperti ini. lama aku duduk diatas ranjangku, 10 menit kemudian aku beranjak untuk mandi karena aku ingat aku harus pergi kerja.


chapter 2

hari ini seperti biasanya. cerah. tetapi kelewat cerah buatku. karena aku tidak begitu suka hal yang membuatku silau. aku kenakan kacamataku untuk menahan panasnya matahari pagi. dan aku berangkat untuk kerja. pekerjaanku tidak begitu menyenangkan, aku bekerja sebagai kasir disebuah swalayan ditengah kota besar ini. pengunjungnya memang banyak, tapi rasanya bosan harus duduk berlama-lama dan mengerjakan hal yang sama berulang-ulang. sebenarnya aku tidak menginginkan pekerjaan seperti ini, aku ingin menjadi wanita karir. karena dalam pikiranku yang namanya wanita karir pasti sibuk dan tidak bisa melamun walaupun sedetik. tapi takdir sedang tidak dipihakku. aku harus cepat-cepat mendapatkan pekerjaan untuk membiayai hidupku dan Adam. orangtua kami sudah meninggal beberapa minggu yang lalu, semenjak itulah hidupku jadi tidak teratur. aku meninggalkan kuliahku, meninggalkan masa dimana harusnya aku bersenang-senang, dan aku harus mengurus adikku yang masih sekolah. sungguh menyedihkan.
kalau aku memikirkan hal ini, aku jadi ingat hari dimana orangtuaku meninggal. aku dan Adam tidak pernah tau apa penyebabnya. mereka meninggal pada senin malam, memang malam itu perasaanku tidak begitu tenang, gelisah sekali. dan tiba-tiba aku tak sadarkan diri. begitu aku sadar, seperti biasa, Adam ada disebelahku dan mencoba membangunkanku, aku sempat heran kenapa aku bisa pingsan tiba-tiba. padahal tidak ada hal yang aneh padaku. 1 menit begitu aku sadar, barulah telepon rumahku berdering dan menyampaikan berita yang paling aku tidak ingin dengar. aku sempat merasakan lututku goyah, dan aku memberikan telepon itu kepada Adam dan membiarkannya untuk mengetahui lebih jelas apa yang terjadi, sementara aku duduk dikursi dan masih berpikir bahwa ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi. aku tidak bisa bicara dan berpikir apa-apa selain itu, sampai Adam membangunkanku dari pikiran itu dan langsung menarikku untuk pergi dari sana. aku tahu sebenarnya kemana dia akan mengajakku, tapi aku berharap dia hanya berpura-pura lupa hari ulangtahunku. tapi ternyata apa yang aku harap salah, bahwa telepon itu nyata, dan benar. tapi,, airmataku tidak bisa keluar, aku juga tidak tahu kenapa, padahal, aku ingin sekali menangis dan berteriak. apa yang ada dihadapanku sama sekali tidak membuatku menangis, dihadapanku,, adalah mayat orangtuaku. aku melihat Adam menggelayuti mereka, tapi aku hanya terpaku dan tak sanggup bicara, ada perasaan aneh dalam diriku, sedikit-sedikit kutarik bibirku kebelakang dan membentuk senyuman kecil, lalu aku sadar tak seharusnya aku tersenyum. ada apa denganku? apa ada yang salah dengan aku? kalau aku meresapi hatiku jauh kedalam, aku melihatnya berteriak sedih dan menangis, memaksa-maksa diriku untuk mengikuti apa yang Adam lakukan, tubuhku mengharuskanku untuk berjalan menghampiri mayat orangtuaku. tapi ada sesuatu diluar hatiku yang menarikku untuk menjauhinya. aku terpaku dan tak bisa bergerak sama sekali, aku membutuhkan orang untuk menarik tubuhku kemanapun agar aku bisa bergerak. aku lelah sekali kalau harus begini terus. dan seperti mendengar pikiranku yang kusut, Adam langsung menarikku menjauh dari sana dan membantuku duduk disebuah kursi panjang. sampai mayat orangtuaku dikuburkan, aku sama sekali tidak bisa bergerak selain dipaksa dan ditarik oleh Adam. dan semenjak saat itu juga aku mulai bermimpi buruk, mimpi yang sama hanya detailnya berbeda. dalam mimpiku aku pasti bertemu mahluk-mahluk aneh yang ingin mencoba membunuhku, dan berakhir pada wanita menjijikan berjubah merah.
sampai sekarang akupun tak mengerti apa yang terjadi pada diriku, dan Adam juga tidak tahu apa-apa tentang aku. aku tidak akan memberitahunya tentang aku pada saat kematian orangtua kita kepada Adam. Adam mengira aku hanya shock dan tidak bisa berkata apa-apa. aku terima alasannya dan membuat diriku yakin bahwa aku shock, walaupun 100 persen aku tau dan sadar sepenuhnya. dan memang, aku sangat peka terhadap topik yang satu itu. kalau seseorang berbicara mengenai orangtuaku lagi, aku tidak akan menanggapinya, aku harus menganggap itu hanya sebagian dari mimpi burukku.
dan sekarang, aku harus bangkit lagi, aku punya tanggunggan yang harus aku jaga, Adam. dia keluargaku satu-satunya. dan aku sebagai kakak, aku tahu apa yang harus aku lakukan. jangan sampai Adam mendapatkan hal-hal buruk.
"Anna!"
aku tekejut, langsung saja aku menoleh kearah suara itu yang berada tepat disebelahku. aku melihatnya, dia teman kerjaku Layla. dia lebih pendek dari aku tapi sangat enerjik. tapi yang aku tidak suka dia selalu mencampuri urusanku. mungkin bagi orang-orang yang menginginkan perhatian tidak masalah. tapi aku tidak. perhatiannya terlalu berlebihan, seolah-olah dia rela menjagaku kemanapun aku pergi, kebaikannya terlalu berlebihan buatku. kalau aku melamun sebentar pasti dia sudah panik. dan yang lebih membuatku risih, dia begitu tertarik tentang mimpi-mimpi burukku, katanya, aku mungkin sedang didampingi oleh sesuatu yang tak kasatmata. aku ingin sekali kalau dia bicara sepert itu.
"Layla, ada apa?" aku bertanya tanpa peduli tatapan matanya yang menunjukan rasa iba padaku.
"seharusnya aku yang bertanya, kenapa daritadi kau diam saja? ada masalah? cerita sama aku, siapa tau aku bisa membantumu" pintanya, dan anehnya, mengapa wajahnya ikut memelas?
"oh, em.. tidak. tidak ada apa-apa, terimakasih atas tawarannya"
"jangan bohong.. aku bisa melihat wajahmu.." apa-apaan dia? mengapa wajahnya makin memancarkan sorot prihatin saja? memangnya aku minta dikasihani?
"tidak, aku hanya mimpi buruk semalam" gawat! aku salah bicara!
"mimpi buruk?" sergahnya seperti mendengar hal yang lebih buruk
"tidak bukan apa-apa..."
"tapi itu bukan pertanda baik Anna! sudah berapa kali kau bermimpi buruk? kalau dibiarkan saja, lama-lama jiwamu tidak akan kembali kebumi ini lagi, kau harus cari cara untuk menghentikannya, aku kenal beberapa orang yang bisa mengusir mahluk-mahluk seperti ...." sudah kuduga arah pembicaraannya sungguh tidak menyenangkan. lebih baik aku pergi saja dari sini.
"tidak terimakasih. aku tadi hanya asal bicara. mm... sebaiknya aku merapikan gudang saja. permisi"
kapan aku bisa melepaskan pekerjaan ini. aku ingin sekali berhenti, tapi karena mencari pekerjaan sulit, jadi lebih baik aku bertahan saja. dan 'merapikan gudang' hanya alasanku saja untuk menghindari Layla, aku tidak tahan mendengar ocehannya itu. dia memang baik padaku semenjak pertama kali aku bekerja disini, tapi aku yakin dia semakin berusaha ingin melindungiku dan berusaha membuatku senang didekatnya adalah karena Adam. sebelumnya Adam pernah kesini mengunjungiku, dan tiba-tiba saja dia bertemu Layla, terjadi begitu saja tanpa aku tahu. begitu aku dan Adam sampai dirumah aku baru tahu, kalau Layla menitip salam pada Adam. dan semenjak saat itu perhatiannya padaku semakin menjadi-jadi. jadi sekarang?, apa yang seharusnya kulakukan digudang? lebih baik aku memisahkan barang-barang yang sudah tidak bisa dijual lagi saja, aku letakkan barang-barang itu disudut kiri gudang. ternyata banyak sekali, sedikit menyesal aku harus merapikan gudang. satu per satu kupindahkan kardus-kardus tak berguna itu dan mulai bekerja bolak-balik. kuhitung kardus-kardus yang kuangkat itu mulai dari satu, dua, tiga.... dan begitu kardus ke-20, aku mendengar suara gaduh dari toilet disebelah gudang, aku pikir itu kucing, aku biarkan saja suara itu dan terus memfokuskan diriku unutuk mengangkat kardus-kardus lagi. tapi suara gaduh itu sekarang begitu keras, tanpa sengaja aku menjatuhkan kardus itu dari tanganku dan memegang dadaku, reaksi reflek kalau aku terkejut. sebisaku untuk tidak berteriak, dan sepertinya tidak ada orang yang mendengarnya, karena cuma aku orang didalam gudang itu, aku berjalan mantap ke toilet untuk memeriksa ada apa disana, aku sama sekali tidak berpikir macam-macam seperti yang dikatakan oleh Layla. kubuka pintu toilet, dan anehnya, mataku tidak melihat toilet disana, melainkan sebuah ruangan yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari sebuah meja sepanjang satu meter, dan begitu mataku bisa melihat jelas, ternyata cahaya itu berasal dari api yang mengelilingi meja tersebut. aku baru menghela nafas, tiba-tiba ruangan itu menjadi terang dan memperlihatkan pemandangan mengerikan padaku. aku melihat mayat-mayat yang masih baru tergeletak disetiap lantai ruangan itu, tidak ada lantai yang kosong, semuanya berisi penuh mayat, dan mata mereka semua membelalak terbuka lebar, seperti baru saja melihat sesuatu yang sangat menekutkan bagi mereka, kulit mereka sudah pucat dan ada beberapa yang membiru. dan yang sangat membuatku mual, kepala mereka tergantung ditubuh mereka, seperti dipenggal tetapi tidak dipisahkan, ada sedikit daging yang masih merekatkan kepala-kepala itu ketubuhnya. aku benar-benar belum selesai terkejut dan kulihat ada yang mencengkram kuat kaki kananku, aku bahkan tak bisa bersuara saking takutnya, dan akupun tak sanggup untuk melihat siapa yang mencengkram kakiku. aku menunduk sedikit-sedikit dan aku melihatnya!, wanita berjubah merah itu, aku mengenalnya, wajahnya sangat menjijikan dari yang sudah kulihat dalam mimpiku, berlendir dan mengeluarkan bau busuk, dia menatapku, tapi menunduk lagi, sekilas aku melihat apa yang dia cengkram selain kakiku, tubuh oranglain yang masih hidup, dia menundukkan kepalanya keleher orang itu, dan bunyi sesuatu yang patah dan memuakkan mulai terdengar, aku melihat tubuh itu mengejang gemetar seperti kambing yang akan dipotong lalu tidak bergerak lagi, matanyapun membelalak ketakutan. lututku sudah lemas kalau aku tidak melihat apa yang ada dibawahku sekarang, aku pasti sudah merosot. aku mendengar suara robekan dan suara orang makan. mustahil! wanita menjijikan ini memakan daging manusia? aku harus lari dari sana. bahkan akupun belum sempat mengumpulkan tenaga untuk lari, wanita menjijikan itu mendongak kearahku. dia membuka mulutnya lebar-lebar dan aku melihat gigi-gigi yang merah karena darah, dan serpihan-serpihan daging manusia. aku benar-benar mual. aku akan menjadi santapannya kali ini, aku tidak bisa apa-apa, tapi aku harus mencoba, aku mundur, aku merik kaki kiriku menjauhinya, tetapi cengkramannya dikaki kananku semakin kuat, dan aku tidak bisa menggerakkan kaki kananku. kuku-kuku jarinya yang panjang dan hitam menusuk masuk kedalm betisku, tapi akupun belum bisa berteriak, suaraku tertahan ditenggorokkanku, aku juga tak bisa melawan, aku merasa bahwa aku harus ditempat jangan bergerak dan menatapnya tajam-tajam, aku bisa merasakan keringatku keluar deras dan jantungku berpacu cepat. aku menahan nafas dari baunya yang memuakkan dan memandanginya seolah-olah aku meneriakkan kata "pergi" ketelinganya dengan keras. sebelum wanita itu bereaksi, aku merasakan tepukan pelan dipundakku. aku terlonjak keras dan menoleh kebelakang, Layla.
"hey Anna! ngapain kau disini?" tanyanya
aku tidak menjawab, aku melihat kedepanku dan hal yang tadi kulihat sudah tidak ada, ruangan itu sudah menjadi toilet lagi, dan tidak ada mayat, darah, dan wanita itu. aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Layla masih memperhatikanku, aku yakin wajahku pucat, dia pasti bingung melihat keadaanku yang penuh keringat dan ketakutan. walaupun aku tidak membuka mulut dan bereaksi berlebihan.
"tidak ada apapun, aku hanya melihat tikus tadi disana.." aku berbohong, dan Layla bukan orang yang tepat untuk dibohongi. sorot matanya menunjukkan dia tidak percaya padaku, aku tak peduli, aku meninggalkan dia disana dan pergi kemeja kasir. aku menyibukkan diri untuk membuang jauh-jauh apa yang kuingat atau kulihat tadi. apakah tadi itu nyata? aku tidak tahu. aku harus fokus kepekerjaanku dan sebisa mungkin menghindari Layla. karena dia pasti akan mengungkitnya lagi. meskipun apa yang dia katakan benar topik untuk hal seperti ini bukanlah hal yang ingin aku bicarakan. aku memfokuskan diri sampai pekerjaanku selesai dan aku pulang kerumah.
aku sangat tidak selera makan, aku sangat mual, bahkan begitu sampai dirumah dan Adam memasak makanan yang enak, aku sangat tidak selera makan, kuputuskan untuk menonton acara tv, Adam mendekatiku sambil membawa makanannya dan duduk disebelahku,
"Anna, kau tidak mau makan?" tanyanya
"aku tidak begitu nafsu makan"
"ya...., aku tau.. kau sudah banyak makan disana.."
"tidak, aku hanya mual. aku tadi melihat sesuatu yang menjijikan" aku berusaha membuat nada suaraku seperti orang yang sedang bercanda bercampur geli, karena Adam tidak suka jika dia sedang makan dan membicarkan sesuatu yang seperti itu, aku yakin dia tidak akan bertanya-tanya lagi.
"sudah cukup... aku lagi makan tahu..." apa kubilang..
"setidaknya kau akan diam"
"kau bertemu Layla?" tanyanya
"ya"
"apa dia bicara sesuatu tentangku?"
aku menoleh padanya
"memang kenapa?"
"ya... siapa tahu dia menitip salam lagi padaku"
"oh,, aku bahkan sebisa mungkin menjauh darinya"
"memang kenapa?" dia mengulang pertanyaanku
"aku tidak suka saja padanya. terlalu berlebihan"
"apanya?"
"perhatiannya" jawabku jengkel
"ya bagus donk,, dia kan bermaksud baik.."
"ada apa sih denganmu? apa kau jadi mulai lebih suka wanita yang lebih tua darimu?"
"bukan masalah kan?"
aku tidak menjawab, karena sepertinya Adam tahu aku marah
"tapi bukan berarti aku sudah memutuskan untuk menjadikan dia pacarku.., aku hanya menanyakannya saja, dia sudah baik terhadapmu dan aku kalau kau tahu, jadi aku tidak boleh jahat padanya kan?"
"kalau begitu sebaiknya kau pergi ketempatku besok dan bicaralah padanya seharian. sepertinya dia suka sekali bicara banyak, apalagi kalau ada kamu"
aku pergi meninggalkannya sendirian dan memutuskan untuk mandi lalu pergi tidur.

chapter 3

lagi-lagi aku mendapati diriku sedang berlari. tapi yang anehnya, aku baru menyadari bahwa saat itu aku sedang berlari. aku sudah terlanjur letih waktu ku tahu bahwa tidak ada sesuatu yang mengejarku. "hanya mimpi", aku mendesah dalam hati. kuputuskan untuk berhenti dan menunggu hingga aku terbangun. kulihat sekelilingku sepi sekali, aku berada ditengah jalan raya yang tidak ada satupun mobil yang lewat, aku bersandar pada pembatas dipinggir jalan dan memeluk diriku sendiri. aku merasakan dinginnya malam walau hanya dalam mimpi, apalagi aku hanya memakai gaun tidur yang tipis.
"lain kali kalau aku tahu akan bermimpi seperti ini lagi, aku akan tidur menggunakan jaket", pikirku.
hanya saja, apakah wajar kalau aku bermimpi seperti ini terus?, mengapa tak ada satupun mimpiku yang menunjukkan padaku hal-hal yang indah saja?, oh ya aku tahu, karena aku tidak pernah bahagia dan semua berpengaruh pada mimpiku. tapi entah mengapa, sekarang aku ingin sekali bertemu orangtuaku, perasaanku tetap saja merasa tidak enak mengingat sedikitpun aku tidak pernah menyentuh mereka sewaktu mereka meninggal. menangispun tidak. aku membenturkan kepalaku sendiri ketembok pembatas jalan dan menutup mataku. tidak kencang memang, tapi mengapa aku merasakan sakit? padahal ini hanya mimpi. kupegang kepalaku yang kubenturkan sendiri tadi dan merasakan ngilu yang nyata. kubuka mataku pelan-pelan dan merasakan hawa malam yang makin dingin dan menyeramkan. aku langsung terkejut begitu kutahu bahwa aku tidak berada dijalan raya lagi. melainkan disebuah pemakaman yang sepertinya sudah tak terurus lagi. kulihat sekelilingku dan aku tidak menemukan gerbang masuk pemakaman, aku ingin mencari tapi aku takut tersesat dan berada makin jauh kedalamnya. dan aku juga merasakan sakit yang menyengat disekitar kakiku, barulah aku tahu sekarang aku berdiri diatas rumput-rumput mati yang basah dan lembab, ditambah hawa yang sangat dingin dan kakiku tidak memakai alas. aku merasakan jantungku bertalu lebih cepat karena takut, dan perlahan-lahan aku meyakinkan diriku bahwa ini hanya mimpi, mimpi yang kelewat nyata dan menyeramkan. aku mulai mengabaikan kembali rasa sakitku dan berjalan mencari-cari jalan keluar. tapi, untuk apa mencari jalan keluar kalau aku bisa terbangun nanti? aku memandang batu-batu nisan dan mencoba mengenali nama-nama yang tertera disana. aku melihatnya! makam kedua orangtuaku, tapat disebelah kananku. aku mendekati dan membersihkan rumput-rumput liar yang menutupi makam mereka. aneh sekali, padahal makam orangtuaku selalu dibersihkan oleh penjaga pemakaman disana, setiap bulan aku sudah membayarnya untuk itu. aku harus meminta pertanggung jawaban.
"ayah, ibu,, maafkan aku"
aku meminta maaf sambil membersihkan makamnya. dan aku terkejut lagi begitu ada suara yang menyahut dibelakangku.
"kau tidak bersalah Anna"
aku terlonjak keras hingga jatuh dan memegang dadaku. menahan untuk tidak berteriak dan mencoba memberanikan diri. aku berdiri kembali dengan agak gemetar, menyingkirkan keinginanku untuk melihat kearah suara itu dan terus membersihkan makam orangtuaku. aku yakin suara itu suara seorang perempuan, dan aku teringat wanita berjubah merah, aku harus cepat-cepat bangun dari mimpi ini.
"aku ayahmu Anna"
otomatis aku membalik badanku dan menatap arah suara itu, tepat dibelakangku berdiri ayahku, dan disebelahnya ibuku. aku sangat takut, tapi aku juga penasaran. hanya saja, aku tetap tidak ingin bicara apapun. mereka berpakaian rapi layaknya manusia tapi berdiri tak bergerak, ada lingkaran ungu dibawah mata mereka, dan matanya,,, seperti orang ketakutan. akupun ikut takut.
"kau harus menolong kami Anna" kata ayahku
"ada masalah yang harus kau tuntaskan" ibuku menyambung
"kalau tidak kami tidak akan bisa mati dengan keadaan yang sebenarnya"
"dan kau akan terus bermimpi buruk"
ayah dan ibuku bicara sambung-menyambung tanpa memahami maksud ketidaktahuanku akan kata-katanya.
"ayah mohon Anna. ada sesuatu yang harus kau hancurkan"
"seorang wanita berjubah merah"
"karena dia tidak akan pergi darimu"
"temukanlah cara untuk membunuhnya"
"selama dia masih berada didalam mimpimu, kami tidak akan mati dengan sempurna..."
"dan kuburan ibu akan mengeluarkan pisau api yang akan mencabik-cabik ibu..."
"dan ayah akan dipaksa menelan ular hidup-hidup..."
"kuku-kuku ibu akan dicabut paksa..."
"tubuh ayah akan dikuliti..."
"hentikanlah penderitaan kami Anna"
"kau harus ingat, ini bukan mimpi"
"tapi pesan untukmu"
"kalau kau tidak bisa menyelesaikannya"
"maka yang jauh lebih buruk akan menimpa adikkmu"
"dan kau akan ikut menderita bersama kami disini"
"tolonglah Anna"
dan mereka lenyap. aku bergeming. tak sanggup berpikir dan bergerak. kata-kata tadi meresap kedalam otakku seolah-olah aku menjalani siksaan-siksaan itu. aku menjauh pelan-pelan dari makam orangtuaku dan mulai berjalan cepat tanpa menoleh. aku takut kalau aku melihat sesuatu yang lebih buruk lagi. aku mendengar suara-suara aneh lagi, aku mengabaikannya dan berusaha menemukan jalan setapak dan berhati-hati untuk tidak melihat atau menginjak kuburan-kuburan itu. aku takut  berlari, takut kalau tiba-tiba ada yang menghambat lariku dan menarikku kedalam tanah. aku masih berusaha hati-hati berjalan dan menguatkan kakiku yang sudah mulai keram dan lemas. suara-suara itu makin keras ditelingaku, aku mencari jalan dan mencoba menjauh dari suara-suara itu. tapi aku tidak menemukan apa-apa, tidak ada jalan keluar dan aku tahu aku hanya berputar-putar disana. aku kembali lagi kemakam orangtuaku, lalu kembali lagi dan lagi, dan lagi, dan lagi. aku mulai putus asa dan menahan tangis, tubuhku berkeringat hingga rambutku basah walaupun malam itu sangat dingin. aku mulai berbisik panik, "bangunkan aku, bangunkan aku, bangunkan aku!" sambil terus mencari jalan dan mengabaikan makam orangtuaku yang aku lewati terus-terusan. aku memegang dadaku dan kepalaku berulang-ulang, dan aku tidak bisa lagi menahan untuk tidak berteriak waktu aku terperosok kesalah satu kuburan itu, aku merasakan tanahnya yang lembab dan masuk kedalam peti matinya, aku jatuh terlentang dan begitu aku membalik badan, aku melihat wajah satu mayat didalam peti mati itu dan matanya tiba-tiba terbuka lalu tangannya menahanku disana memeluk pinggangku. aku meronta dan berkutat untuk lepas darinya dan berusaha tidak menatap matanya yang putih dan berdarah-darah. aku merasakan kedua tanganku ditahan dan tamparan demi tamparan terasa dipipiku, aku takut untuk membuka mata dan melihat mayat itu, tapi aku mengenali suaranya.
"hei, hei, Anna!! ini aku Adam! sadarlah!"
aku panik, tapi mulai bisa merasakan kakiku lagi, hawa sedikit demi sedikit menghangat dan aku merasakan bahwa aku tidur diatas kasur, bukan diatas mayat. aku membuka mataku dan langsung melihat wajah Adam.
"Anna,, bangunlah, kau kenapa? ada apa?"
aku mendengar suaranya, aku merasa ringan begitu melihat wajahnya. dan aku bisa merasakan jantungku yang bertalu cepat sampai aku tak sanggup bicara. Adampun menunggu penjelasanku, dia membangunkanku dan memberikanku segelas air, kulihat airnya sudah berkurang, pasti dia tadi sudah menyiramku dengan air itu, tapi aku tidak tahu karena bajuku basah dengan keringat. aku meminum air itu dan sedikit-sedikit aku merasa tenang. aku masih memegang dadaku berusaha menenangkan jantungku yang sepertinya tidak mau berhenti. aku memandang Adam yang kebingungan menunggu penjelasanku.
"aku tidak apa-apa Adam...." aku mencoba mengumpulkan tenaga untuk bicara
"tidak apa-apa katamu?! memang kupikir sepertinya ada yang salah dengan dirimu itu" kata-kata Adam terdengar ketus. aku tidak mengerti apa maksudnya
"aku memang tidak apa-apa. hanya mimpi buruk"
"mimpi buruk?? mengapa tersengal-sengal begitu?! dan apakah orang mimpi bisa mengambil tanah dari mimpinya??!!" aku terdiam 10 detik
"tanah? aku membawa tanah apa?"
"lihat dirimu!" otomatis aku memperhatikan diriku sendiri dan aku melihat betapa kotornya aku, gaun tidurku yang bewarna rose menjadi kumal dan kotor sekali, bau tanah. Adam tidak sabar melihatku dan melanjutkan kembali ocehannya.
"kau tahu apa yang kau lakukan terhadapku tadi? kau melempariku dengan tanah! menjijikan.." aku melihat wajah Adam yang kotor "dan lihat kaki kananmu! ada yang menusukmu tapi kau tidak sadar! manusia apa kau ini?!"
aku kembali melihat kakiku, dibetis kananku ada 4 tusukkan hampir sejajar dan 1 tusukkan agak kebawahnya, luka-luka itu mengeluarkan darah segar dan mengalir membasahi sprei tempat tidurku. aku mulai merasakan sakit dan nyeri. perih sekali. aku menyuruh Adam mengambil kotak P3K dan aku kekamar mandi untuk membersihkan diriku dulu dan lukaku. setelah selesai, aku mulai mengobati lukaku, darah tidak berhenti keluar, tapi sudah lebih baik daripada aku melihatnya pertama kali. Adam hanya memperhatikanku, pandangannya khawatir sekali. aku tidak peduli dan sibuk dengan lukaku, setelah aku obati, ternyata jauh lebih baik, rasa sakitnya berkurang.
"siapa yang membuatmu seperti itu? sampai terluka.."
aku menyandarkan diri disofa dan tidak mau memikirkan pertanyaan Adam. aku masih ingat apa yang terjadi padaku pagi itu, wanita berjubah merah itu yang mencengkram kuat kakiku, aku tidak mau berpikir macam-macam karena saat itu aku yakin bahwa itu hanya ilusi. memang terasa sakit, tapi aku tidak menyangka akan menjadi luka seperti ini. aku teringat percakapan monolog yang hanya ditujukan padaku oleh orangtuaku. dan tubuhku kembali tegang begitu mengingatnya. Adam melihat reaksiku itu.
"Anna,, kau tidak sedang punya masalah kan??" tanyanya
aku memandanginya dan membuang kata-kata ibuku bahwa Adam akan mengalami hal yang lebih buruk dari aku. aku tidak akan membiarkan itu terjadi pada Adam tentu. dan,,, aku juga tidak akan membiarkan orangtuaku tersiksa seperti kata-katanya itu.
"Adam,, aku ingin bertanya satu hal padamu.."
"apa?"
"apa kau pernah mendengar sesuatu yang aneh tentang ayah dan ibu?" Adam mengerutkan kening
"maksudmu?"
"maksudku, apakah ayah dan ibu pernah berbuat jahat kepada orang lain?"
"setahuku tidak, kau kan juga tahu..., mana mungkin ayah ibu berbuat jahat.." Adam sepertinya masih tidak mengerti apa yang aku bicarakan. aku berpikir sementara Adam masih memandangku dengan bingung
"ya memang ada hal aneh pada ayah dan ibu" Adam mengaku, aku lansung meresponnya. kentara sekali pasti kalau wajahku penuh dengan keingintahuan. aku mendongak kepadanya dan menunggunya bicara lagi
"sebelum kakek meninggal, dia menceritakan sesuatu tentang ayah ibu,, kakek bilang, mereka akan terkena masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan nyawa...., aku tak tahu persis apa masalahnya....dan..., yah,,, aku tidak begitu percaya sebenarnya...."
"lanjutkan.." aku mendesak, karena Adam sepertinya tidak menyukai cerita itu
"yah kakek bilang dulu kakek buyutnya kakek pernah membunuh seseorang yang ternyata seseorang itu bukan manusia dan seseorang yang dimaksud memang suka membuat resah penduduk-penduduknya dizaman kakek buyyutnya kakek dan kata kakek seseorang itu tidak bisa mati hanya bisa dihindari karena kakek buyutnya kakek berusaha membunuhnya jadi seseorang itu akan membunuh tuntas keluarga kakek buyutnya kakek sampai turun temurun dan terus-terusan dan pembunuhan paling parah terjadi pada keturunan kakek buyut yang ke-5 yaitu ayah dan ibu dan selebihnya akan makin parah menurut kakek seseorang itu menemukan lawan yang seimbang yaitu keluarganya" Adam menjelaskan dengan tidak sabar tetapi aku mengerti apa yang dikatakannya
"lalu kata kakek,, siapa seseorang itu? lelaki atau wanita?" tanyaku
"wanita" jawab Adam cepat, aku menelan ludah
"bagaimana sosoknya?"
"menakutkan menurut kakek"
"dan apakah kakek pernah mengatakan bahwa dia memakai semacam jubah merah?"
"sepertinya begitu...." Adam mengingat ingat "ya, kakek bilang pakaiannya panjang bewarna merah" Adam menambahkan
tenggorokkanku tercekat. aku mencoba untuk bicara lagi
"Adam, kau tahu aku bermimpi apa selama ini?"
"mimpi buruk..., kau tidak pernah mau bercerita"
"aku bermimpi didatangi seorang wanita berjubah merah, sangat bau dan menjijikan, dalam mimpiku dia ingin menangkapku..."
"tapi...." Adam tampak takut, lalu mengubah ekspresinya lagi
"tapi itu hanya mimpi"
"dan ilusi. Adam tahukah kau siapa yang membuat luka dikakiku itu? dia wanita berjubah merah itu. kau tahu kapan aku mendapatkannya? sewaktu aku sedang bekerja dan merapikan barang. aku berhalusinasi melihat wanita itu mencengkram kuat-kuat kakiku"
"kalau itu benar, mengapa baru tahu sekarng bahwa kakimu luka?"
"karena aku berpikir pagi itu hanya halusinasi. aku memang merasakan sakitnya, tapi aku mengabaikannya karena aku sangat ketakutan saat itu. ilusi itu benar-benar nyata bagiku Adam. dan aku yakin setelah aku berpikir panjang bahwa ilusi itu memang kenyataan"
"apa kau sudah gila?" Adam tidak percaya padaku
"kau lihat bagaimana aku bermimpi tadi Adam! mana mungkin itu masih bisa dibilang "cuma mimpi buruk" sekarang? apa kau pikir aku mau tidur dengan badan yang kotor seperti itu? dan bagaimana aku bisa membuat luka yang cukup besar dan menyakitkan itu sendiri kalau bukan orang lain yang membuatny? kau mengatakan aku melempar tanah padamu, apa kau pikir aku bisa menghasilkan tanah sendiri? seperti misalnya aku punya kekuatan-kekuatan gaib begitu maksudmu?"
"aku tetap tidak bisa percaya"
"oh ayolah Adam, buktinya sudah jelas, kau tidak bisa mengelak lagi. ada yang salah dengan aku benar kan Adam?" Adam hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanku
"oke kalau kau tidak percaya padaku, aku akan mencari cara mengatasi masalah ini sendiri dan asal kau tahu, ayah dan ibu datang kedalam mimpiku dan memintaku untuk menyelesaikannya sendiri. mereka sudah bercerita padaku terlebih dulu apa yang terjadi. jadi,,, aku tidak memerlukan bantuanmu" aku meninggalkannya
"tunggu!"
sepertinya kata-kataku tadi tepat sasaran. Adam sudah mulai bereaksi
"kenapa? kau tidak akan membantuku kan?"
"kau bertemu ayah dan ibu....lalu... mereka menceritakan semuanya???" tanya Adam
"ya"
"tapi itu hanya mimpi kan?;;;;" tanya Adam takut-takut
"ya. hanya mimpi... oh Adam, percayalah padaku...."
"lalu aku harus bagaimana untuk percaya padamu??? aku saja belum melihat apa yang terjadi,, siapa wanita itu dan aku belum merasakan hal-hal aneh.."
"itu karena ada aku Adam, kau masih akan normal dan tidak mendapat gangguan kalau ada aku. tunggu aku mati dulu baru kau akan tahu"
Adam tersentak mendengar kata mati. aku berhasil membuatnya bimbang
"lalu, kau mau aku menolongmu apa kalau aku tak tahu apa-apa?"
"kalau begitu aku harus membuatmu percaya padaku dulu Adam"
aku menariknya kekamar
"apa yang akan kau lakukan?!" seru Adam agak kesal
"kau harus melihat bagaimana aku tidur"
"untuk apa?"
"kau akan tahu nanti"
Adam akhirnya menurut saja denganku. aku mengambil obat tidur dengan dosis besar dan berusaha untuk tertidur lagi walaupun sebenarnya aku tidak ingin. tapi aku harus membuktikan pada Adam kata-kataku. aku membutuhkan Adam, karena tidak mungkin aku menyelesaikannya seorang diri. aku yakin orangtuaku mengerti kalau aku juga membutuhkan bantuan Adam. bukan berarti aku akan membiarkan Adam masuk kedalam perangkap, aku tidak akan mati sebelum memastikan bahwa Adam tidak terlindungi apa-apa. dia hanya akan berhati-hati untuk tidak melakukan hal-hal aneh untuk membuat dirinya mengalami hal-hal mengerikan. aku melakukan ini agar dia tahu bahwa dia harus hidup normal tanpa melakukan apapun yang membahayakan dirinya. Adam satu-satunya saudara kandungku, adikku, dan satu-satunya yang bisa kujaga selain diriku. kubiarkan pikiranku berkelana kemana-mana sementara mataku mulai terlelap.

chapter 4


aku tahu bahwa aku sudah masuk kedalam mimpiku sendiri. karena aku merasakan dingin yang sangat menusuk. aku lupa bahwa seharusnya aku memakai jaket, aku malah memakai gaun tidur yang kotor ini. sebenarnya aku tidak peduli, aku harus mencari cara apa yang harus aku lakukan sekarang, karena pikiranku sangat buntu, aku ingin menunjukkan kepada Adam apa yang terjadi padaku, tapi aku tak tahu apa yang harus aku perbuat dalam mimpiku ini, karena aku tak tahu aku akan melihat apa nanti. apakah sesuatu yang lebih menyeramkan daripada sebelumnya? "tunjukkan padaku sesuatu..." pintaku dalam hati.seakan-akan menjawab keinginanku, udara yang ingin itu menghembuskan angin yang kencang dan dari depanku kulihat cahaya yang berjalan lambat-lambat kearahku. aku harus siap menerima apa yang terjadi saat ini, aku kuatkan diriku dan tetap memandang kedepan. tadinya aku hanya melihat sketsa-sketsa yang tidak jelas, tapi lama-kelamaan sketsa disekelilingku berubah menjadi nyata. aku melihat hal yang tidak asing, ini adalah jalan-jalan biasa seperti kehidupanku. aku melihat mobil-mobil melintas, orang-orang berjalan, dan cuacanya juga cerah. aku berada dipusat kota. aku tahu karena aku sering kemari untuk bekerja, aku tidak mengerti kenapa aku bisa bermimpi seperti ini. lalu aku melihat Layla sedang masuk ketoko tempat kami bekerja. aku mengikutinya , dan sedikit berharap aku bisa menyapanya. aku masuk ketoko itu, dan aku memanggilnya.
"Layla..." sapaku, dia melihatku dan tersenyum, lalu diam.
aku hampir lupa kalau pakaianku sangat tidak pantas, tapi begitu kulihat, aku sudah memakai pakaian yang biasa kukenakan jika bekerja, akupun duduk disebelah Layla, aku memandanginya sementara dia merapihkan barang-barang dimeja kasir. Layla pernah mengatakan padaku memang ada yang aneh terhadap mimpi-mimpiku itu, meskipun sangat bodoh karena bertanya hal yang selama ini aku sangkal didepan Layla, akupun memutuskan untuk bertanya.
"Layla,, boleh aku bertanya beberapa hal padamu?.." takut-takut aku bertanya pada Layala. karena kulihat sepertinya dia sedang tak ingin berbicara padaku. dia menatapku dan mengangguk
"ehm... kau pernah bilang bahwa.. intinya ada yang tidak beres denganku..." aku malas menjelaskan "bisakah kau beritahu aku mengapa kau berpikir seperti itu?"
"aku tidak boleh mengatakannya Anna.." Layla menjawab dengan muram
"memang kenapa?"
"kau harus berjanji tidak akan membunuhku..." aku tidak mengert sebenarnya, untuk apa aku membunuhnya? tapi aku meng-iya-kan saja.
"ya" Layla kembali bicara
"aku percaya padamu. Anna, aku hanya ingin mengatakan cuma kamu yang bisa membunuh wanita brengsek itu. kau tahu caranya aku yakin, selamatkanlah keluargamu, kalau kau menginginkan dia mati, maka dia akan mati.."
"tunggu dulu Layla, pelan-pelan" aku menyela
"tidak ada waktu, aku hanya punya saat ini, sekarang ini dia ada didalam tubuhmu, mengikutimu sampai akhir, sampai kau menyerah, kalau kau sudah menyerah, maka dia akan bisa menguasai yang lainnya,keluargamu yang lainnya. tapi kau harus tahu bahwa dia mempunyai kelemahan, selama dia masih berada didalam dirimu, dia tidak bisa keluar atau masuk ketubuh orang lain, sekarang dia sudah menguasaimu, jadi semuanya tergantung kamu"
aku tersentak mendengar ucapannya, aku merasakan hawa yang sangat dingin, dan lebih dingin dari pada malam hari itu mulai meresap kepori-pori kulitku. aku menatap Layla, dan terkejut begitu melihat siapa yang berada dibelakangnya.
"aku cuma bisa membantumu sampai disini Anna" ujar Layla
aku bisa melihat wanita itu melingkarkan tangannya yang berlendir keleher Layla, dia menjulurkan lidahnya keleher dan pipi Layla, aku bisa melihat Layla menahan nafas dan ketakutannya, dan aku bisa menyadarinya, dia tidak ingin berbicara kepadaku karena dia tahu ada wanita itu menunggunya. aku tidak mengerti, ini hanya mimpi, bagaimana wanita itu bisa membunuhnya? tapi perasaanku sangat tidak enak dan tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan. aku melihat disebelahku tumpukan gunting yang masih baru yang akan dijual, aku tidak memedulikan orang-orang disekitarku yang lewat dan aku menyambar salah satu gunting itu, kuambil yang paling besar, panjang dan tajam. wanita itu tahu apa yang akan kulakukan, dia mematahkan leher Layla didepanku tepat saat aku menusuk bahu kirinya dengan gunting, aku berharap tusukan guntingku mengenai jantungnya, dia menjerit kesakitan, mengeluarkan darah dan menghilang tiba-tiba, dan tubuh Layla yang sudah tidak bergerak lagi dengan kepala lunglai kebahu kanannya, jatuh menabrak bagian depan tubuhku, aku mendorongnya, aku ingin sekali melihatnya, tapi aku takut melihat mayatnya yang matanya terbuka dan lehernya yang patah. aku terkejut sekali sehingga aku berlari sekuat tenaga dari sana. aku tahu ini hanya mimpi, tapi menyeramkan sekali. Layla tidak mungkin mati dengan cara seperti itu, apalagi dia tidak ada hubungan apapun dengan keluargaku. tapi aku tidak bisa dan merasa versalah sekali telah memimpikan kematiannya yang begitu mengenaskan. padahal aku berharap dia juga bisa menolongku. aku berlari, berlari dengan cepat entah kemana ujuanku. jalanan seperti mimpi-mimpiku sebelumnya, kosong dan tidak ada siapapun disana. aku panik karena jalanan itu juga sudah berubah, lurus dan ada tembok setinggi 3 meter disisi kana-kirinya, sama sekali tidak ada tikungan, dan aku lihat juga tidak ada ujung. aku panik, kuputuskan untuk berteriak " Adam!! Bangunkan aku cepat!!!" aku langsung terlonjak dan jantungku berpacu makin cepat begitu kurasakan ada sesuatu yang menarikku dari atas. aku tahu bahwa aku sudah dibangunkan oleh Adam, aku menahan teriakanku dan mencoba untuk tenang. aku melihat wajah Adam dan berusaha menahan tangis. aku pernah bermimpi melihat mayat yang lebih menyeramkan daripada itu tapi aku bisa mengendalikan diri, sekarang rasanya ada yang salah, aku sama sekali tidak sanggung melihat orang yang sangat kukenal mati dengan cara seperti itu, walalupun dalam mimpi. apalagi orang itu selalu berusaha melindungiku. aku merasa pusing dan mual.
"Anna!!" aku melihat Adam menatapku dengan ekspresi ngeri. mulutnya terbuka dan kaget sekali, ada apa lagi kali ini? apa yang kubawa?
"Adam???" aku bertanya, tetapi Adam hanya menatapku ngeri, beberapa saat kemudian, dia melihat tangannya sendiri yang berlumuran darah. otomatis aku mendekatinya
"Adam!! apa yang terjadi?? aku terluka? siapa yang membuatmu begitu?!"
Adam kembali menatapku, sekarang ekspresinya berubah, dari yang ngeri menjadi tidak percaya.
"kau Anna!! bukan aku!! kau yang terluka! lihat bahumu!"
aku tak yakin, lalu aku memeriksa bahuku dua-duanya, dan aku lihat dibahu kiriku, darah yang bercucuran banyak sekali, otomatis aku langsung tahu bahwa mual dan pusing yang kurasakan bukan hanya karena mimpi, tapi karena darah ini. aku mencoba menghentikan cucuran darah dari luka yang membuat lubang mengerikan dibahuku, rasanya sakit dan perih sekali. aku mencari-cari apapun yang bisa kupakai untuk menutp lukaku itu. Adam membantuku membebat lukaku, karena aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menangkat tubuhku sendiri, aku tahu aku sudah kehilangan banyak darah, hampir diseluruh tempat tidurku penuh dengan darah. bahkan sampai menetes kelantai. dengan cepat kurasakan Adam memberi sesuatu yang dingin dan menyakitkan kelukaku, aku tahu dia bermaksud memberihkannya, lalu dia membungkus lukaku dengan perban. aku sudah tak sanggup untuk membuka mata aku ingin sekali terpejam, tapi aku takut dengan mimpiku sendiri, aku tidak mau bermimpi lagi, kalau aku tidur, pasti banyak mimpi-mimpi yang jauh lebih mengerikan lagi mendatangiku.
aku tidak bisa merasakan tubuhku lagi, bahkan tangankupun kebas, kucoba mengangkat kepala, tapi aku tak bisa. aku tetap mempertahankan diriku jangan sampai aku tertidur atau pingsan. aku bisa melihat Adam mengangkatku dan membersihkan tubuhku dari darah yang banyak sekali, lalu dia meletakkanku disofa ruang utama rumah kami, mengambil telepon yang kebetulan berdering ketika Adam akan mengangkat gagangnya. aku memperhatikannya dan mencoba untuk melenyapkan perasaan ingin tertidur. Adam hanya diam begitu mendengar suara yang berbicara ditelepon, dia memunggungiku, dan kulihat hanya mengangguk dan menjawab "iya" dan "baiklah" dan terakhir "terimakasih". aku menenangkan diriku sedikit, memejamkan mataku sebentar, dan aku berusaha merasakan tubuhku kembali. Adam sudah duduk disebelahku, wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit gemetar, aku mencoba untuk bangun, Adam melihatku dan membantuku.
"Anna,, diamlah sebentar, aku mau menelpon dokter" kata Adam yang sudah berhasil membuat suaranya agar tidak kelihatan gemetar, tapi aku tidak mempedulikan ucapannya
"siapa yang menelepon?"
"bukan siapa-siapa" jawab Adam kaku, aku tahu dia berbohong
"apa yang terjadi?"
"tidak apa-apa"
"Adam, ceritakanlah, siapa tadi???" Adam menimbang-nimbang pikirannya sendiri, lalu dia memberitahuku dengan sangat hati-hati
"tadi,,, telepon dari tempat kerjamu"
"apa yang mereka bilang?"
"ada yang dibunuh disana..."
"siapa?!!" tanyaku memotongnya
"..Layla.." jawab Adam takut-takut
aku tahu apa yang terjadi, aku pikir mimpiku itu semuanya hanyalah khayalan, dan tidak akan bisa merambat keorang-orang lain. aku ingin tidak percaya, aku mencoba berjalan menuju telepon dan menekan nomor yang kutuju. kutunggu sambil mendengarkan nada sambung ditelepon, lalu suara diseberang menjawab.
"halo..." suara seorang karyawan ditempat kerjaku
"ini aku Anna, apa yang terjadi??"
"Anna,, yah, tadi aku sudah menelponmu dan memberitahu saudaramu, Layla terbunuh disini..."
"bagaimana bisa...?"
"aku juga tidak tahu, begitu ditemukan dia sudah tergeletak dilantai.."
"ini belum waktunya masuk kerja kan? masih terlalu pagi,,, mengapa dia pergi kesana?"
"sekarang dia yang piket, dia yang membawa kunci toko.."
aku diam sesaat, lalu aku bertanya lagi
"dan... bagaimana dia dibunuh?..." aku mencoba tenang, aku yakin suaraku gemetar
"dia.... aku juga tidak sanggup melihatnya, lehernya patah, dan kepalanya berputar kebelakang..."
"baiklah terimakasih" aku menutup telepon
ini tak mungkin, mimpiku tidak mungkin menjadi terlalu nyata begini. aku duduk disebelah Adam dan berpikir panjang. dalam mimpiku, Layla memang terbunuh, caranya memang sama, tapi tidak mungkin ini terjadi. aku tidak boleh bersedih sekarang, aku harus menyelesaikannya, aku tidak mau ada yang terbunuh lagi. aku menguatkan diriku untuk berdiri, aku berpikir.. Layla bilang wanita itu tidak akan keluar dari dalam tubuhku sampai aku menyerah terhadapnya, dan dia akan menyakiti keluargaku, tapi,, mengapa wanita itu membunuh Layla??? aku memutar otak mencari jawaban, wanita itu membunuh Layla karena dia memberitahuku apa yang harus aku ketahui. Layla mengetahui banyak hal tentang ini, dan itu membuatnya tidak disukai wanita itu, maka, wanita itu membunuhnya. tapi,,, kakek bilang hanya keluarga saja yang akan disakitinya, kalau Layla tahu banyak, Adampun lebih tahu, dia sudah tahu lebih dulu, mengapa Adam tidak pernah merasakan apapun? karena.... karena... karena wanita itu menginginkan darah keluargaku secara berurutan, aku bisa merasakannya, karena aku ingat sewaktu orangtuaku meninggal, aku merasakan kebahagiaan yang tak wajar, tapi begitu Layla yang meninggal..., hatiku sedih dan perih sekali. semuanya dimulai dari orangtuaku yang tertua daripada Adam dan aku, lalu karena aku lebih tua dari Adam, jadi aku yang dikejarnya lebih dulu, sedangkan Layla?.... wanita itu pasti menganggap Layla akan  merusak rencananya, maka dia membunuhnya, Layla bukan keluarga kami jadi dia tidak perlu mengurutkan kematiannya kedalam daftarnya sendiri, dan wanita itu tidak mengambil jiwanya, hanya membunuhnya saja. lain dengan keluargaku. jiwaku akan diambil, kalau aku tidak bisa membunuhnya, maka Adam juga akan terbunuh, tidak.... ini tidak boleh terjadi. "hanya aku yang bisa membunuhnya" kata-kata orangtuaku, Layla,, mengapa hanya aku? karena... karena... karena aku yang sangat mengerti tubuhku sendiri, karena dia berhubungan denganku. aku menusuknya, membuatnya terluka, dan aku juga terluka, jadi, apa yang membuat dia terluka dan kesakitan, akupun akan mengalami hal yang sama dengannya. jadi aku harus... aku harus... membunuhnya,, dengan kata lain,, aku harus membunuh diriku sendiri??.. benarkah demikian?... tapi, kalau dengan begitu aku bisa menyelamatkan Adam,, dan menyelamatkan keluargaku selanjutnya,, kenapa tidak?? aku menatap Adam yang bingung melihatku.

chapter 5


aku memutuskan untuk membunuh diriku sendiri, tapi, bagaimana caranya agar tidak ketahuan oleh Adam? aku yakin Adam tidak menyetujui rencanaku ini. aku tidak bisa melakukannya didepan Adam,, melihatku terluka saja dia sudah shock, apalagi kalau melihatku mati?. aku harus memikirkan cara... aku bisa melukainya didalam mimpi, berarti... aku bisa membunuhnya didalam mimpi,, dan aku akan terbunuh didalam mimpi juga.. tidak buruk. dan bagian tersulitnya, aku harus memberitahu Adam terlebih dulu, dia memang terlihat kuat secara fisik, ototnya besar, tapi dia tidak mempunyai kekuatan mental sepertiku. dia lebih mudah stress ketimbang aku. aku mendekatinya dan duduk disebelahnya, dia lebih ketakutan dibanding aku. aku membelai kepalanya, dan mulai memberitahunya
"Adam... jika sesuatu terjadi padaku..."
"tidak!" sela Adam bimbang "kau tidak boleh kemana-mana. kau tidak akan apa-apa!"
"dengarkan aku dulu Adam..."
"jangan bilang kau akan meninggalkan aku sendiri! kau pergi aku akan ikut!"
"tidak bisa Adam!" aku melepaskan tanganku dari kepalanya
"kenapa tidak bisa! tidak mungkin aku akan sendirian disini! kau tahu aku sangat membutuhkanmu.. aku sayang kamu Anna..."
"ya aku tahu, tapi kalau aku tidak menyelesaikannya, kita tidak akan hidup lama disini Adam"
"tapi kau tetap akan meninggalkanku..."
"aku tidak bilang begitu!"
"tapi aku tahu kau akan mengatakannya! aku tahu!"
"Adam... kau harus tahu, kau sudah melihat sendiri bagaimana aku bermimpi,, kalau aku tidak berusaha mencegahnya, lama-lama aku akan mati dengan mimpiku sendiri. kau ingin melihatku mati perlahan??"
"kita bisa mencari caranya... aku yakin ada cara lain"
"kau tahu apa yang terjadi dengan Layla! dia sudah lama berusaha untuk menolongku dan menyelesaikan tekai-teki mimpiku itu dari pertama aku tidak percaya apapun. sampai sekarang aku percaya, dia tetap membantuku! dan apa yang terjadi? dia ...." aku tak sanggup melanjutkannya "dan aku melihat wanita itu membunuh Layla dalam mimpiku Adam. aku tidak bisa terus-terusan melihat mimpi yang berisi tentang pembunuhan sadis"
Adam berpikir, dan sepertinya, dia tidak punya pilihan. dan aku melihat wajahnya yang stress untuk memilih pilihan yang bertentangan dengan dirinya. dia menangis dan memelukku
"aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu Anna. aku tidak mau kau memilih pilihan yang salah, aku tidak mau memilihkan untukmu, tapi aku juga tidak mau melarangmu. kau tahu yang lebih baik dari aku. kau harus kembali lagi Anna" aku tidak ingin menangis, aku tidak mau membuat Adam tambah sedih. aku melepaskan pelukannya.
"aku tidak bisa berjanji apa-apa Adam. aku harap kau bisa menerima kemungkinan yang terburuk"
"kau tidak akan mati kan?" pertanyaan itu serasa mengoyak perutku
"aku tidak tahu, tapi yang pasti... semua orang pasti akan mati"
Adam menahan tangisnya
"lalu,, apa yang akan kau lakukan??" tanya Adam
aku berpikir sebentar, dan memantapkan niatku untuk bunuh diri, tapi... ide lain muncul dikepalaku, aku harus membunuh diriku sendiri didalam mimpi, agar aku bisa mematiskan bahwa wanita itu mati ditanganku. dan... aku tidak perlu menyakiti diriku secara langsung. aku akan puas melihatnya kesakitan dan akan mengabaikan rasa sakitku hingga dia mati.
"Adam, kau harus menjagaku, aku akan tidur"
Adam menggeleng dia terlihat sangat tertekan sekali, lebih daripada aku.
"Adam, aku sudah memperingatkanmu untuk menerima apapun yang terburuk, jadi.. jangan terlalu berharap apapun, aku tidak mau kau akan kecewa nanti. sekarang..." aku menghela nafas "aku akan meminum obat tidur dan obat penenang sekaligus, supaya aku tidak menendang-nendang dan berteriak jika aku mengalami hal-hal aneh dalam mimpiku"
aku pergi mencari obat yang kubutuhkan, begitu menemukannya, aku langsung memakan semuanya. tidak terjadi apa-apa. tapi kemudian secara tiba-tiba, aku sudah terjatuh karena obat penenang. samar-samar Adam menangkapku dan meneriakkan namaku, aku tidak bisa menjawab karena aku sudah tertidur. suara Adam semakin lama semakin menjauhiku, dan aku sadar, lagi-lagi aku berada dalam kegelapan yang sangat dingin. aku merasakan luka dibahuku seperti menyalakan api, perih sekali... aku berjalan mencari apa yang harusnya kutemukan. aku melihat matahari, matahari yang terbit dan menerangi seluruh jalan disekelilingku. apakah semua mimpiku berkaitan dengan waktu? sepertinya begitu. aku lihat aku berada di bebatuan yang tajam, tidak ada tumbu-tumbuhan, hewan, mobil-mobil, jalanan, perumahan, atau apapun yang sering kulihat dalam mimpiku selain batu-batu yang hitam dan ada beberapa yang cukup tajam. "ini akan melukai si wanita bau itu" pikirku. aku menunggu disana, duduk, tidak berusaha mencari-cari karena aku tahu dia akan mendatangiku. dan benar saja, setelah aku berpikir seperti itu dia sudah berdiri didepanku. aku yakin sekali mimpiku ini akan memberikanku apa yang kumau, karena setiap aku berpikir menginginkan sesuatu pasti selalu ada. entah mengapa aku tidak merasa takut berhadapan dengannya, aku yakin kalau aku melihat wajahku, pasti aku melihat sorot wajah yang merasa jijik karena menginjak kotoran dikakinya.
"hi" aku menyapanya, terdengar bodoh sekali. kulihat dia tersenyum sinis dengan memamerkan gigi-giginya yang semuanya berbentuk taring.
"kau... terlihat menjijikan sekali, kau seharusnya membawa kaca dan melihat dirimu sendiri"
wanita itu mendekat kearahku, ketika dia berjalan, wajahnya berubah cantik dan tubuhnya wangi. dia membuka tutup kepalanya yang bewarna merah, dan tersenyum padaku
"kalau saja kakekmu yang dulu tidak mencoba membunuhku, wajahku akan tetap cantik" ucapnya sinis, dan walaupun cantik, aku bisa melihat dari matanya kalau dia lapar dan menunjukkan sikap ingin membunuh
"sebelum aku yang akan membunuhmu, aku ingin tahu kenapa kau memilih keluargaku?"
"karena keluarga ini yang berurusan denganku, dan aku memilihnya. kecantikkanku sudah hilang sejak aku hampir mati, tapi... kalau aku memilih korban, dan menghabisinya sampai tidak ada yang tersisa... aku akan kembali cantik dan kuat"
"sayang sekali, karena sepertinya aku harus membunuhmu lebih dulu"
aku tidak memilik persiapan waktu wanita itu menerjangku dan melemparku kedinding batu-batu itu, sakit sekali, karena aku tidak bisa bertarung, aku bisa merasakan tulang punggungku berderak dan batu-batu kecil karena hantaman tubuhku berjatuhan diatasku. aku mengabaikan rasa sakit kakiku yang tidak mengenakan alas dan menginjak batu-batu yang tajam. aku menyiapkan diriku untuk hal ini, aku tidak boleh kalah, aku tidak tahu apa yang terjadi kalau dia berhasil membunuhku, apakah dia akan hidup atau mati, dan aku tidak mau menerima resikonya kalau dia hidup, dan aku harus membunuhnya. aku mengambil batu yang agak besar, kulihat batu itu dan berpikir bagaimana caranya aku bisa memukulkan batu ini dikepalanya? aku menutup mataku dan menenagkan diri. ini mimpiku, dan aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, sebuah pisau yang besar sepertinya cukup bagus, aku membuka mataku dan melihat wanita itu menerjangku lagi, dia memegang leherku dan membelainya dengan kelembutan yang membuat bulu kudukku merinding. aku tidak bisa berontak, sel-sel tubuhku tiba-tiba mengejang kaku dan tidak bisa bergerak. aku mencoba untuk tenang, dan aku bisa merasakan lagi tubuh wanita itu yang bau, aku melihat bahwa wanita itu sudah kembali menjadi menjijkan, naluriku mengatakan sekarang aku harus memukulkan batu itu kekepalanya, tapi pasti dia bisa melihatku dan menghindar lebih dulu, maka aku memukulkan kedadanya. dia berteriak kesakitan, dan darah keluar dari dadanya. aku melihat batu ditanganku dan heran mengapa batu bisa menghasilkan luka seperti itu? lalu aku tahu ternyata bukan batu, melainkan pisau yang aku bayangkan tadi. aku bisa mengalahkannya, aku harus... membakarnya kalau begitu, aku membayangkan bensin dan api, tapi aku tidak melihatnya begitu membuka mata. dan aku melihat wanita itu menerjangku lagi dan membantingku. aku merasakan tulang punggungku makin berderak dan sakitnya luar biasa, aku tidak bisa bangun, tulangku sudah patah, aku menyeret tubuhku menjauhinya, dan aku merasakan goresan-goresan batu yang tajam disekujur tubuhku. wanita itu menginjak perutku, sakit sekali... rasanya isi perutku hampir keluar. aku menggapai-gapai sesuatu dan menemukan benda yang dingin. aku lihat ternyata itu selang yang besar, aku membuka pemutarnya dan cairan bening keluar dari selang itu, deras dan banyak. aku mengarahkannya kepada wanita itu hingga tubuhnya tergeser menjauh dariku. dia meronta-ronta untuk maju tetapi tidak bisa, aku terus mengarahkan selang itu kearahnya. baunya seperti bensin, dan aku tahu aku hanya membutuhkan api untuk membakarnya. batu! aku bisa menggesekkan batu dan menghasilkan api!, aku tak punya waktu banyak, setelah kulepas selang itu, aku harus bersembunyi dibalik batu besar dan mencoba menyalakan api. aku mendengar dia berteriak dan berjalan cepat kearahku, aku mengambil dua buah batu yang agak besar dan menggesekannya untuk menghasilkan api. sementara dia makin dekat dan apiku belum menyala, dan sekarang dia menemukanku dan ingin menggapaiku, aku mencoba lagi menggesekkan batu dikedua tanganku dan ternyata menyala. kulemparkan batu yang menyala itu kearahnya dan api langsung membesar dan membakar tubuhnya. dia meronta dan berguling-guling untuk memadamkan api itu ditubuhnya, jangan! pokoknya api itu tidak boleh padam! aku mengarahkan selang itu lagi kearahnya dan secara mendadak begitu aku membuka pemutarnya, api itu membesar dan makin lama makin besar. seperti tidak bisa dipadamkan, lama sekali dia bergerak-gerak seperti itu, dan kemudian, dia tidak bergerak lagi. sedangkan api masih menyala dengan besar menghanguskan tubuhnya. aku memandangi api dan apa yang ada didalamnya itu, dan aku yakin ketika aku bangun aku akan merasakan sakitnya sampai mati. tapi, siapa yang akan membangunkan aku? aku memandangi api itu yang makin lama semakin kecil dan lenyap. aku tidak akan berusaha berteriak agar Adam membangunkanku. biar saja, aku belum siap merasakan sakitnya. dan... aku menangis... air mataku terjatuh, lalu tiba-tiba saja segalanya menjadi terang. aku melihat kilau sinar matahari yang indah dan rumput-rumput kecil disekitar mataku memandang. bunga-bunga segala warna tumbuh disebelah kananku, dan pohon apel berjajar didepanku. pemandangan ini indah sekali. kalau ini awal kematianku, rasanya nikmat, aku belum pernah melihat hal seperti ini, dan aku menyentuh sesuatu yang berkilau di udara. aku memperhatikan kilauan itu, ternyata aku berdiri diawal garis pelangi merah. aku melihatnya dari dekat dan kusentuh warna merah diudara itu. rasanya sejuk sekali. aku berjalan sepanjang pelangi dan bunga-bunga itu, dan diujung jalan, aku melihat rawa hitam, bau, dan berlendir. mengingatkanku pada wanita berjubah merah itu. aku memandangi rawa itu, mengingat bagaimana aku bisa membunuhnya, didalam rawa ada api yang menyala, dan kulihat didalamnya api ada sosok berjubah merah, aku yakin dia terkurung disana selamanya. sebelum aku sempat berpikir pajang, raw aitu meledak, dan ledakannya menariknya kedalam bumi, seolah-olah rumput dan tanah bergerak kearah rawa, lalu menutupinya. tidak ada lagi rawa disana. aku berpikir, dan aku yakin wanita itu sudah mati, dan menerima balasannya. "sekarang giliranku" aku ingin sekali tinggal disini, tapi aku akan melihat Adam dulu untuk terakhir kalinya, dan pergi selamanya. aku baru saja ingin berteriak "bangunkan aku" seperti biasa, tiba-tiba aku sudah merasakan tulang punggungku yang patah, sakit sekali. dan aku juga merasakan panas, panas yang sangat. tubuhku terasa terbakar. aku menggeliat kesakitan, dan tidak ada yang bisa kumintai tolong. aku ingin mengabaikannya, tapi sakitnya luar biasa. tubuhku seperti dikuliti. sekarang aku bisa meraskan perasaan ikan yang menggelepar-gelepar karena dipancing, dan aku yakin, sakitku lebih parah dari ikan itu. aku mulai merasa lelah untuk berteriak, jika ini memang ajalku, sudah seharusnya aku tidak melawan, aku harus ikhlas, aku harus rela. maka kuputuskan untuk membiarkan diriku terbakar, walau tidak ada api yang menyelubungi seluruh tubuhku. aku bisa merasakan asap yang mengepul masuk kedalam kerongkonganku dan mataku. perih sekali memang. tapi aku tidak bisa keman-mana. aku mulai tidak sadar dalam mimpiku sendiri. aku merasakan sakit yang mulai menghilang kepalaku, tapi masih menjalar ditubuhku, setidaknya aku bisa menenangkan pikiranku. aku tidak tahu apakah aku akan berada disurga atau dineraka. aku tidak ingin memikirkan hal itu, aku memikirkan Adam... aku tidak tahu apakah dia bisa hidup sendiri? bagaimana jika dia butuh sesuatu? dan... dan aku melupakannya! mana mungkin aku tidak menitipkannya kepada seseorang? dia masih tujuh belas tahun! aku tak yakin dia bisa hidup sendiri jika diingat sifat manjanya dengan ayah da ibu... aku ingat lagi... ayah dan ibu? apakah dia sudah tidak tersiksa lagi? apakah dia sudah bebas? aku tersentak mendengar pertanyaanku sendiri. aku memejamkan mata dan mencoba mencari ayah dan ibu. au tahu aku busa menemukannya karena aku juga sudah mati.
"ayah?... ibu?..."
panggilku. aku masih berbaring menunggu api yang menjilati tubuhku puas karenanya. aku tidak mendengar jawaban, dan aku memanggilnya lagi... tetapi tetap tidak ada yang menjawab. aku putus asa. inikah hasilnya? aku sudah mati, tetapi tidak bisa menemui orangtuaku? padahal aku sangat mengharapkannya waktu aku hidup...
"kami sudah bebas Anna, terimakasih. dia tidak akan mengganggu keluarga kita lagi"
aku mendengar suara yang aku kenal, suara ibuku. aku mencerna kata-katanya dan tersenyum begitu tahu artinya. asal orangtuaku senang dimanapun dia berada, aku akan ikut senang walaupun duniaku berbeda dengan mereka.
sedikit-sedikit aku mendapatkan penciumanku, aku mencium sesuatu yang sangat kukenal. bau yang sama ketika aku melihat mayat kedua orangtuaku dirumah sakit. dan, api ditubuhku seolah-olah lenyap, digantikan rasa hangat yang nyaman. apakah aku masih bisa merasakan sesuatu kalau sudah mati? aku tidak tahu karena aku baru merasakan kematian.
"dia... bernafas" aku mendengar suara asing
"benarkah? terimakasih banyak dokter..."
dokter? apakah dialam sini juga ada dokter? arwah mana yang sedang sakit hingga membutuhkan dokter? apakah dokter itu arwah juga?
aku mendengar langkah kaki dan pintu terbuka lalu menutup. ada yang mengangkat tanganku, dan aku merasakan setetes air diwajahku. kematian yang aneh.
"Anna, kau akan selamat. kau masih disana kan Anna? kau mendengarku?"
itu suara Adam! tidak mungkin! apakah Adam mengunjungi kematianku? jangan-jangan... ini sudah waktunya pemakamanku. tapi harusnya aku sudah mati. tidak bisa mendengar apa-apa lagi. kenapa bisa?
"Anna.. kalau kau mendengarku, cobalah bernafas yang dalam"
aku tidak tahu apakah ini pantas disebut kematian, aku menuruti kata-kata Adam, aku bernafas sedalam mungkin, tapi tidak tahu apakah usahaku berhasil
"bagus Anna, kau bernafas! sekarang... mungkin permintaanku ini berlebihan, tetapi.... kalau kau bisa, bukalah matamu"
apakah Adam akan membawaku dari kematian ini? tapi aku tetap saja memaksakan kelopak mataku terbuka, sulit sekali. seperti ada yang merekatkan mataku. kucoba sekali lagi, tapi aku tidak merasakan gerakan sedikitpun
"yah... mungkin memang belum waktunya..."
suara Adam terdengar putus asa dan sedih. aku ingin sekali melihat wajahnya... tapi... apa aku bisa? aku tidak bisa melawan kematian ini. tolonglah Adam... jangan sedih didepanku. aku tidak tahan melihatnya
"Anna, kau bilang harus menerima kemungkinan terburuk, sekarang aku tahu, bahwa apa yang aku mau tidak bisa kupaksa. melihat kau masih memiliki detak jantung saja aku sangat bahagia. aku berharap akan melihatmu lagi. tapi dokter bilang, kau sudah sekarat, jangan berharap terlalu banyak. dan aku... aku juga tidak bisa berbuat apa-apa"
sungguh aku tidak tahan mendengarnya. aku harus membuka mataku dan menatapnya, aku harus memperlihatkan pada dia bahwa aku yang salah karena aku meninggalkannya tanpa modal apa-apa. hanya sendirian, kalau dibandingkan denganku, Adam pasti akan lebih mengalami masa yang lebih sulit. setidaknya aku bisa meminta sesuatu dalam mimpiku. sedangkan Adam? aku mencari letak tanganku, aku mendapatkannya, dan aku meraba-raba mencari apa yang bisa kusentuh dari Adam, aku tahu aku sudah berusaha keras, tapi pasti Adam tidak bisa melihat gerakanku. aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk bicara, membuka mata, dan menggerakkan anggota tubuhku sekaligus. sulit sekali, aku hampir kehabisan tenaga. "aku tidak apa-apa" aku mengucapkan kata-kata itu berharap Adam mendengarku, tapi sepertinya Adam hanya terpaku, dia pasti tidak menyadari apa yang aku lakukan. aku berusaha lagi, kali ini aku menenangkan diri dan mencoba membuka mataku. sedikit-sedikit aku melihat sinar yang menyilaukan, terang sekali. tapi aku tetap memaksakan memandang sinar itu. aku mengerjap-ngerjapkan mataku. sakit sekali rasanya harus memaksakan membuka mata seperti ini. aku memandang berkeliling dan melihat Adam. tenagaku habis untuk membuka mata, sehingga aku tak sanggup memanggilnya. Adam memperhatikan wajahku dan yang kulihat buka wajah yang sedih, tapi wajah dengan ekspresi terkejut dan shock melihatku. begitu dia melihat mataku, dia menahan tawanya dan suaranya.
"Anna!.." seru Adam mencoba untuk tenang yang rasanya sulit sekali
"kupikir aku hanya menghayal mendengar suaramu, tapi tiba-tiba tanganmu bergerak dan sekarang... kau menatapku!!" Adam terlihat ingin sekali memelukku tapi ditahannya, seolah-olah aku ini sesuatu yang lunak dan jika menyentuhku harus berhati-hati agar tidak membuatku penyok. aku mencoba membuat suara. "aku.. tak..pa" sulit sekali bicara hanya sedikit seperti ini. tapi aku senang melihat kegembiraan diwajah Adam. aku ikut bahagia juga.
"sekarang kau tidak akan pergi. aku yang akan menjagamu. kita gantian!" seru Adam semangat, aku tersenyum. sekarang aku tahu bahwa aku tidak mati, aku senang sekali bahwa aku bisa kembali kedunia ini lagi. tidak beberapa lama, aku sudah mulai lelah karena banyak tenaga yang aku keluarkan. akupun tertidur.

4 tahun kemudian...

aku sudah menjalani hari-hariku seperti biasa lagi semenjak aku dan Adam diteror oleh mimpi-mimpiku sendiri. dan aku tidak pernah bermimpi buruk lagi dan Adampun sepertinya tidak. sekarang aku sudah menikah dengan seorang pria yang aku temui dikampusnya Adam. dia salah satu dosen favorit Adam, dan Adam yang mengenalkanku padanya. namanya Paul, aku sudah mengenalnya semenjak Adam masuk kuliah 3 tahun yang lalu, setahun kemudian, aku menikah dengannya. sekarang kami sudah mempunyai satu anak perempuan, aku menami dia Sherry, seperti nama ibuku. karena aku ingin ibuku bahagia didunianya sana. Adam masih tinggal bersamaku, aku tidak mau membiarkannya sendirian walaapun dia sudah dewasa, dia sudah memutuskan untuk tinggal sendiri dan bekerja sendiri. tapi aku tetap menahannya dan membujuk Paul untuk memberitahu mata ujiannya nanti jika dia mau tinggal bersama kami. Adampun tidak mau menolak keinginan itu. dia sering mengajak jalan-jalan Sherry keluar bersama teman-temannya, dan dia sering mengajak seorang teman perempuan bersamanya kerumah. meski dia tidak jujur, aku yakin bahwa dia pacarnya. aku sedikit bangga begitu tahu banyak yang menyukai adikku itu, selain sopan, dia juga lebih ceria sekarang. dan tidak ada lagi apapun dari alam sana yang akan menggannggu kami lagi. kalau mereka mengganggu lagi, aku akan mempertahankan nyawaku lagi untuk melindungi keluargaku.

FINISHED

1 komentar:

  1. Mimpi yang menyeramkan, membacanya jadi seperti ikut dibawa mimpi

    BalasHapus