Selasa, Februari 16, 2010

The Truly BFF

pendahuluan

aku tahu yang namanya teman tidak boleh menuntut apapun dari sahabatnya. apalagi kalau ternyata dia itu teman yang paling baik dan menarik. tapi... apa aku salah jika meminta dia untuk melakukan sesuatu untukku? sedangkan aku tahu bahwa aku tidak pernah bisa untuk melakukannya. aku meminta hidupku yang hilang, sebagai seorang sahabat, seharusnya dia mengerti bahwa aku tidak ingin hidupku hilang begitu saja. tapi dibalik semua itu, kami memiliki hobi yang sama dan cita-cita yang sama. ingin menjadi penyair.

chapter 1


seharusnya aku mengerti apa yang diinginkan orangtuaku. hanya saja aku begitu egois dan ingin sekali menentang mereka. mungkin itu yang ada didalam pikiran mereka tentangku. aku egois, karena aku tidak mau pindah sekolah lagi. keluargaku akan pindah dari kota ini. kota yang sudah nyaman bagiku. aku memilih untuk egois karena... aku tidak bisa beradaptasi dengan baik! aku sudah bersekolah disini, memiliki banyak teman, dan aku juga memiliki apa yang aku butuhkan. aku ingat waktu pertama kali aku jadi murid tahun pertama disini aku sama sekali tidak bisa bicara sedikitpun. dan akhirnya... aku membutuhkan waktu satu tahun untuk membuat diriku nyaman bersama teman-temanku. waktu yang sangat lama tentu. tapi itu bukan masalah kalau pada akhirnya mereka semua sangat membutuhkan aku. aku tidak pintar, aku juga tidak kaya, tidak cantik, dan tidak langsing. otakku hanya menerima pelajaran yang aku suka saja, kalau aku benci pada guru mata pelajaran itu, aku pasti tidak repot-repot untuk mempelajarinya lebih jauh, seperti matematika. tubuhku juga biasa saja, tidak tinggi tidak pendek, tidak kurus tidak gendut, ditambah kulit yang tidak putih jug atidak hitam makin menambah saja kekuranganku. tapi aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada fisikku. yang penting aku tidak boleh bau badan dan bau mulut didepan orang saja. karena aku paling tidak suka orang yang bau. terkesan jorok. dan aku bisa mempengaruhi teman-temanku untuk melakukan sesuatu. banyak mereka bilang, aku ini seperti laki-laki, tidak suka berdandan dan memiliki kebiasaan laki-laki, suaraku pun seperti laki-laki. aku tidak begitu peduli tentang hal itu, asal ada baju celana saja aku akan memakainya, aku tidak begitu suka memilih - milih baju seperti yang biasa dilakukan orang-orang kalau pergi ke mall. lebih baik aku memakai yang ada saja, karena lebih nyaman. aku juga tidak pernah berambut panjang, karena gerah dan ribet sekali. aku tidak suka hal-hal yang rumit seperti rumus-rumus fisika-kimia. aku lebih suka yang simple seperti bahasa indonesia. dan sepertinya, ada yang tertarik dengan sifatku ini, seorang wanita teman sekelasku, Herly. awalnya aku hanya sekedar "hai" saja, tapi dia mulai mendekati aku, orangnya memang bawel, tapi aku nyaman dengannya. dia cantik dan bersikap sebagaimana seharusnya wanita, kelihatan sekali kalau dia suka warna pink. dari tas, sepatu, gelang, bahkan pernak-pernik kaos kakinya ada yang gambar anjing pink kecil-kecil. salut deh. dan satu lagi, Vian. anak yang gaul dan periang. pakaiannya juga sama sepertiku, tidak peduli warna favorit yang penting nyaman dipakai. tapi dia juga suka memperhatikan penampilannya. dia bisa memakai apapun yang dikenakannya yang serasi dengan wajahnya, walaupun terlihat nyantai, tapi dia juga memilih. aku mulai dekat sama dia sama seperti aku dekat dengan Herly. suatu hari aku sedang duduk-duduk saja didepan kelas dimeja guru bersama Herly (tempat favoritku untuk duduk memang dimeja guru, biasanya aku suka memperlihatkan diri kalau aku sedang duduk dimeja guru sewaktu guru matematika masuk kelas untuk mengajar) Herly tentu saja tidak berani, dia lebih memilih berdiri disampingku. hal-hal yang aku bicarakan dengan dia juga tidak menarik, hanya mengulas film-film yang semalam kami tonton. dan saat itu Vian datang dan ikut mengobrol dengan kami. aku dan Herly tidak merasa bingung, karena meskipun dia tidak pernah bicara panjang lebar dengan kami, dia tetap teman sekelas. aku hanya menganggap bahwa obrolanku dan Herly seru sampai Vian tidak ingin melewatkannya. dan sepertinya Herly juga berpikir seperti itu. dan anehnya, obrolan kami yang tidak seru itu menjadi 'hidup'. aku merasa nyaman sekali dan menikmati pembicaraan yang ini. padahal masih tentang film, tapi kalau melihat Vian yang menceritakan sambil memperagakan apa yang diceritakannya menjadi lebih baik dan mudah dimengerti. selama ini kalau Herly bercerita hanya cerita saja, tapi sepertinya Vian punya cara lain untuk bercerita. dan akhirnya kami pindah duduk dibelakang untuk cerita lagi. Herly duduk didepan kami sendiri dan aku kursi paling belakang bersama Vian. guru matematika tahu kalau aku tidak pernah memperhatikan pelajarannya, jadi dia membiarkanku saja. tapi aku tidak menyangka dia juga akan marah karena Herly dan Vian juga tidak memperhatikan pelajarannya. karena satu alasan. Herly meski tidak begitu pandai pelajaran matematika, tapi dia dikenal sebagai anak yang menghargai guru dan menghormatinya. sedangkan Vian, dia memang pintar pelajaran itu. tapi bukan itu alasannya, karena guru matematika itu rumahnya bersebelahan dengan Vian. dan kalau Vian melakukan hal-hal aneh, pasti akan langsung dilaporkan oleh guru itu. semenjak saat itu, kita bertiga selalu sama-sama dan menjadi sahabat baik.
tapi itu akan berlalu. karena sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju sekolah untuk mengambil surat kepindahanku. sedih sekali rasanya. aku bertemu mereka untuk yang terakhir kalinya, Herly menangis, dia memang suka sekali menangis kalau ada sesuatu yang menyedihkan. aku tahu kalau Vian juga ingin menangis, tapi dia bisa lebih menahan diri dibanding Herly. dia berusaha menghibur Herly, selain karena Herly menangis, dia juga tahu kalau aku benci orang yang menangis. aku melihat Maya teman sekelasku yang lain berkacamata duduk disebelah Herly membelai-belai pundak Herly. sejak kapan dia dekat dengan kita? oh sudahlah mungkin saja dia bisa menjadi penggantiku. walaupun aku tidak mau membayangkan diriku kutu buku seperti dia. dan akhirnya, aku pulang dan tidur untuk mempersiapkan diri bangun pagi-pagi pergi kerumah yang sekarang menunggu untuk keluargaku tempati.



chapter 2


tidak begitu menarik. pikirku begitu aku melihat rumah baru itu. memang pemandangannya cukup bagus, dengan latar belakang pegunungan yang hijau dan membuat mata terkesan sehat. tapi tetap saja aku tidak menyukainya. selama ini aku hanya memikirkan bagaimana caraku bergaul dengan orang-orang sekitar, bahkan aku sudah mempersiapkan dialog kalu nanti ada saja yang bertanya padaku. tapi terkadang aku suka lupa dengan apa yang akan aku bicarakan dengan orang kalau aku sudah berhadapan dengan orang itu. aku lebih memilih diam atau tersenyum. bukan berarti aku ini pemalu, oh tidak, lebih tepatnya, aku sedikit pemalu. itu alasan lain. alasan utamaku, karena aku tidak begitu suka keramaian. jadi, biasanya yang namanya anak baru itu pasti dikerumuni banyak orang yang ingin tahu, aku paling risih sekali jika hari itu datang. sudahlah, aku memikirkannya nanti saja kalau hal itu sedang aku hadapi. lelah sekali otakku harus berfikir seperti itu.

hari itu datang. aku harus mempersiapkan diri untuk hal ini, jujur saja, hatiku sungguh berdebar-debar. aku harus ngomong apa nanti?? ah, itu dia kelasku. aku memilih untuk tidak masuk kesana dan berdiri dekat kantor sekolah. aku menundukkan kepala karena banyak sekali orang yang memperhatikanku. mereka selalu saja ingin tahu. aku jadi sebal. yang membuatku makin sebal, aku harus berangkat sendirian. mungkin memang nasibku begini. sejenak aku ingin bel berdering agar mata-mata yang memperhatikanku hilang. dan do'aku terkabul, tidak beberapa lama bel berdering, dan mereka semua sibuk masuk kekelas. itu berarti, aku juga harus masuk ke kelasku. oh tidak, aku lebih memilih beberapa menit yang lalu saja kalau begitu. aku berdiri dan meyakinkan diriku sendiri, bahwa hari ini tidak akan berjalan lama dan akan segera berakhir. aku melangkahkan kakiku dan masuk kedalam kelas. aku tidak tahu kalau sepatuku berat sekali, dan udaranya panas tidak enak. atau mungkin itu hanya perasaanku saja?. orang-orang dikelas itu diam melihatku masuk, aku tidak membiarkan diriku berdiri lama-lama didepan pintu, aku mencari bangku kosong dideretan belakang. "duduk disini aja, disini ga' ada yang nempatin" kata salah satu murid cewek dikelas itu. sialnya, itu bukan bangku deretan belakang yang aku mau, tapi paling depan sekali dekat dengan meja guru. huh!. aku senyum sedikit dan menerima tawaran cewek itu. dugaanku benar, ternyata banyak sekali yang mendekatiku dan bertanya macam-macam. pertanyaan itu sudah aku ketahui sebelumnya, namanya siapa? darimana? koq pindah kesini? rumahnya dimana?. aku menjawab sesingkat mungkin karena mereka bertanya terburu-buru. aku tahu alasannya, karena sudah terlihat dari jendela seorang guru sedang berjalan kearah kelasku. begitu guru itu masuk, anak-anak berhamburan ketempat duduknya masing-masing. aku berharap sekali bahwa aku dilupakan.
"sepertinya, ada wajah yang tidak saya kenal disini"
oh tidak. ini mimpi buruk. aku menunduk dan berusaha memasang wajah yang biasa saja. ditambah lagi teriakan anak-anak dikelas (ada anak baru pak!! ada anak baru pak!!) yang membuatku makin gemetar.
"ya, anak baru, coba maju dulu kedepan kelas"
aku merasakan orang yang duduk disebelahku mendorongku untuk maju, dengan wajah cuek yang aku buat-buat, aku maju kedepan dan menunggu instruksi apa yang akan ditujukan padaku.
"namanya siapa?" tanya guru itu, sebelum aku bisa menjawab, si guru memnintaku untuk menuliskan namaku dipapan tulis. apa-apaan ini? memangnya aku anak sd??
"begini, tulis saja nama kamu dipapan tulis yang lengkap, alamat, dan tanggal lahir"
ha ha. aku tertawa suram dalam hati. ini sungguh memalukan. aku sudah seperti digilas tank waktu anak-anak memintaku sambil berteriak untuk menuliskan nomor telepon. aku ingin hajar mereka. nama, alamat, tanggal lahir, nomor telepon? memangnya aku sedang mendaftar disalah satu jaringan? ini lebih parah dari apa yang aku bayangkan. buruk,, buruk sekali. aku menjalani saja waktuku dan secepat yang aku bisa untuk menyelesaikannya. kutulis namaku dipapan tulis

Lora Molis
03 Maret 1991
Jl. garuda no. 18
085284512596

setelah anak-anak sibuk mencatat namaku, alamatku, tanggal lahirku, dan nomor teleponku (bodoh sekali harus dicatat, setelah satu bulan disini mereka juga akan tahu sendiri) akhirnya pelajaran dimulai. guru yang tadi namanya pak Dito, guru bahasa inggris. cara mengajarnya seolah-olah dia sedang mengajar anak sd saja. apa dia memang selalu ceria seperti itu ya?
pelajaranpun berakhir, sekarang waktunya istirahat. aku lebih memilih duduk dikelas sendiri dan tidak bergabung dengan yang lainnya. karena aku yakin pasti ada yang mendekati aku dan mencari tahu tentangku. dan 100 buatku, ternyata aku benar. ada 3 orang yang duduk disebelahku. aku mendengar mereka menyebutkan nama mereka, Wiwid, Dona, Ela. aku membiarkan mereka duduk dan mendengarkan mereka bicara.
"ko' kamu bisa pindah kedesa? kamu kan dari kota?" tanya Dona
"kenapa? ga' boleh ya?" aku balik tanya
"bukan, tapi kan lebih enak dikota daripada disini"
"ceritanya panjang"
mungkin nada suaraku membuat mereka berhenti bicara denganku dan memilih pergi. aku melihat mereka bergabung dengan teman-temannya yang lain dan sekali-sekali mereka melirik kearahku. aku tahu sekali apa maksud mereka, mereka sedang membicarakanku. hanya saja, wajah mereka seperti membicarakan sesuatu yang membuat mereka jengkel. aku tidak peduli.

sudah beberapa minggu aku menjadi anak baru disekolah ini, ternyata memang tidak ada kemajuan, aku belum berhasil mengambil hati orang-orang ini dan membuat mereka tertarik padaku. aku tidak begitu memikirkannya sekarang, karena mereka semua sepertinya tidak menyukai sikapku yang tidak peduli terhadap mereka. aku menganggap seolah olah mereka tidak ada. memang, kalau sedang bicara kepadaku, mereka manis sekali, tapi aku sering mendengar mereka menjelek-jelekkan aku dibelakang. tapi setidaknya aku kenal dengan teman sebangkuku, Ita. dia baik, setidaknya yang ku tahu dia tidak ikut menjelek-jelekkan aku. aku sedikit nyaman bersama dia. dan ada seorang lagi, Yuri. cewek manja, dan selalu tersenyum. dia memang tidak pernah bicara padaku, hanya sesekali saja, tapi aku suka melihat tingkahnya. tidak merasa dirinya paling "ter-" diantara teman-temannya yang lain. dia menunjukkan dia apa adanya. tidak merasa paling cantik, pintar, atau populer. padahal, dia lumayan cantik menurutku. tidak seperti Wiwid, otak pas-pasan, wajah standar, dan sedikit tambahan lemak diseluruh tubuhnya, tapi bermake up tebal, dan nilai plus untuk tingginya yang sebahuku. kalau sedang berjalan, pinggulnya dilenggok-lenggok. kalau bicara, suaranya dibuat-buat biar terdengar merdu. aku kasihan sekali melihatnya.
setiap jam istirahat pasti aku duduk-duduk saja didalam kelas. dan aku heran apa yang membuat Yuri mendekatiku dan duduk bersamaku.
"lagi ngapain Ra?" tanya dia, seakan dia sudah lama kenal denganku
"berpikir" jawabku asal
"mikir apaan?"
"ga tau juga ya"
"kamu ko' diem banget sih. jawab orang irit banget"
"ya, mau gimana lagi?"
"eh ra, kamu tau lagu yang mak comblang ga? aku suka banget lagu itu tapi ga hapal"
"mak comblang, lagunya melly ya?"
"iya"
"aku tahu"
"catetin dong ra... aku suka banget lagu itu. ntar aku mau hafalin"
daripada tidak ada kerjaan, aku mencatat lagu yang diminta, itu kan lagu lama, jelas saja aku tahu. panjang juga liriknya, jadi agak lama mencatatnya. dan 2 menit kemudian, aku menyerahkan selembar kertas berisi lirik lagu kepada Yuri. lalu dia mulai mendendangkan lagunya itu, dan sedikit bingung
"eh ra, aku ga tau gimana nyanyinya, panjang banget, coba kamu nyanyiin deh ntar aku ikutin"
"udah kamu aja, cocokin aja nada sama liriknya itu, ntar juga dapet"
"aku ga bisa, kecepetan. kalo ga aku nyanyi trus kamu bilang kalo ada salahnya dimana ya"
"iya"
dia mulai menyanyikan lagu "mak comblang" itu, kelihatannya dia memang tidak bisa, nadanya tidak cocok dengan liriknya. jadi banyak sekali salahnya. akhirnya aku juga yang menyanyi. aku perhatikan dia, sepertinya sedang berusaha menyimak suaraku. dan dia mengikutiku pelan-pelan. dan waktu istirahatku habis dengan bernyanyi. tapi semenjak saat itu, Yuri jadi dekat sekali denganku.

chapter 3


aku sudah terbiasa dengan suasana sekolah baruku. dan ternyata, tidak buruk waktu aku menjalaninya. dan aku juga tersenyum sendiri waktu banyak sekali yang segan terhadapku. kata mereka, karena aku orang kota.  dan sudah jarang sekali yang mengomentari tentang aku dibelakangku. aku jadi lebih sering berkumpul bareng bersama mereka. tapi aku tetap saja tidak suka dengan Wiwid. kalau ada aku dia semakin sombong saja. sewaktu aku tanya pada Dona, teman terdekatnya dan mengambil resiko kalau dia akan memberitahu pada Wiwid, jawaban yang kuperoleh membuatku berpikir bahwa Dona tidak benar-benar menjadi sahabatnya, dia bilang kalau Wiwid itu asli orang desa tapi ingin bergaya kota. aku bisa melihat itu, jadinya terkesan kuno sekali. aku tidak akan sebal melihatnya kalau dia berhenti berbicara tentangku yang buruk-buruk, dan memasang wajah sinis setiap melihatku. tapi aku tidak mau membuat masalah. reputasiku disini masih bersih. aku sekarang makin dekat dengan Yuri. dia anak yang baik, dan tidak pernah memilih-milih teman. dia juga mengabaikan perkataan orang-orang dan teman-teman lamanya tentang aku. bahwa orang kota itu sombong dan bossy. kenapa harus dibanding-bandingkan? bagiku sama saja aku orang mana. dan Yuri juga tidak mempermasalahkan hal itu. aku selalu bersama-sama dengan Yuri, dan dia juga merasa senang denganku. dia sering memintaku untuk membantunya menyanyikan sebuah lagu dan aku membantunya, tentu saja yang aku bisa. dia jadi sering kerumahku, bahkan sudah kenal dengan orangtuaku. dan yang aku senangi dari dia, aku pernah menulis kata-kata yang saat itu sedang kupikirkan dan kuberikan pada dia. dia suka sekali puisi. aku memberikan kepadanya selembar kertas dengan beberapa bait tulisan, dan saat itu sedang ujian.

tertatih langkah menujumu
keringat mengalir bak air terjun
maksimal usahaku mencapaimu
dengan impian bahwa kau akan menjawabku

dan dengan cepat dia membalasnya begini

beribu cara sudah dilakukan
memeras semua otak dan fikiran
selangkah terlewati dengan tenang
apakah aku masih bisa bertahan?

dan semenjak saat itu kami berdua suka sekali puisi. dan dia juga terus memberikanku puisi-puisi yang bagus-bagus. tapi semenjak kami bersama, aku tidak pernah merasa ada sesuatu yang menarik. hanya mengalir seperti biasa saja.

aku sudah sangat mengenal isi sekolah ini, dan orang-orang sudah menganggapku bukan anak baru lagi, dan akupun juga berpikir begitu. aku merasa Yuri semakin jenuh padaku, aku tidak tahu mengapa, tapi kulihat dia sering kali berjalan dengan Rida, aku kenal dia, dan masih satu kelas denganku dan Yuri juga, dia sahabat baiknya Yuri dari dulu. dan sempat terhasut oleh Wiwid, jadi dia tidak begitu dekat lagi dengan Yuri. dan sekarang, mereka kembali dekat. kenapa aku jadi kesal ya? berarti Yuri tidak jauh berbeda dengan Wiwid. begitu dia kembali pada sahabatnya yang lama, aku dilupakan. aku sungguh rindu sahabat-sahabatku dulu. aku pikir Yuri sangat mirip seperti Herly, tapi ternyata beda sekali. maka kuputuskan untuk kembali diam dan tidak menegurnya. biarkan saja. aku tidak butuh teman seperti itu.

sudah beberapa hari aku tidak bicara dengan Yuri. dan hari ini sewaktu pulang sekolah, Yuri mendekatiku lagi.
"hei Lora, kamu kenapa?" tanya dia.
"aku? tidak apa-apa"
"dari kemarin kamu cemberut terus"
"memang wajahku begini"
"eh, ra. duduk dulu sini yuk. aku tanya pendapat kamu tentang puisi yang baru aku buat. coba baca deh"
Yuri memberiku buku puisinya dan aku membaca puisi barunya. aku tidak begitu ingin menyimak karena aku masih sebal sama dia.
"ya bagus"
"beneran?"
"iya"
dia menyimpan bukunya kembali dan aku menunggu
"kamu temenan lagi sama Rida ya?" pertanyaan itu langsung meluncur dari mulutku. dan aku heran suaraku terdengar sinis sekali, wajah Yuri berubah sedih
"iya aku tau ko' ra. kamu ga suka sama Rida kan? tapi aku emang udah deket sama dia. dia benci banget aku deket sama kamu"
jujur sekali Yuri. dia tidak mengerti perasaan orang lain ya?
"oh, gitu"
"tapi sekarang udah ga lagi ko' ra. dia minta maaf sama aku, dia kapok deket sama Wiwid. katanya Wiwid tu ngeraja banget. ngancem-ngancem orang kerjanya. Rida kan pinter ya ra, suka dimintai ngerjain PRnya Wiwid. emang cewek tu ga tau malu banget"
Yuri menjelaskan panjang lebar. aku terima saja penjelasannya
"kamu ga marah kan ra?" tanya dia
"oh, ga ko'"
"sebenernya kamu marah aku tau. tapi lain kali aku pasti bilang ke kamu deh. janji!"
"ya terserah kamu"
"ntar aku suruh Rida nemuin kamu"
"eh, ga usah. ngapain sih. emangnya aku cewek apaan ditemuin sama cewek?"
"bukan gitu, maksud aku biar kita bertiga terus.. gitu.. kamu mentang-mentang ngasih lagu ke aku mak comblang jadi nyangka aku mak comblang beneran"
"ya kali aja"
dan semenjak saat itu, hubunganku dengan Yuri membaik. Rida juga jadi sering bicara padaku. awalnya dia malu-malu. tapi ternyata dia orangnya asik. dia mengingatkanku pada Vian. kedua sahabatku yang dulu ternyata kembali dalam rupa yang berbeda. tapi aku tetap tidak melupakan Herly dan Vian. karena biar bagaimanapun mereka juga sudah masuk kedalam hidupku. Wiwid tidak senang melihatku begini, sewaktu ingin masuk kelas, dia sedang didepan kelas duduk-duduk bersama teman-temannya. dia mulai menyinggung dan sengaja berbicara keras-keras kalau ada aku. "eh, awas ada orang kota" katanya dengan suara yang tidak merdu dibuat-buat. aku langsung menghampirinya
"kenapa wid?"
"ga apa-apa" ucapnya jutek
"kalo ga suka sama aku ngomong aja, ga usah nyindir. tinggal bilang apa yang ga disuka dari aku ntar aku rubah sifat aku"
"ga ko', aku ga ngomong gitu. kamu aja yang ngerasa"
"bukan gitu, aku ga suka aja aku denger kamu sering ngomongin aku yang jelek-jelek. risih, jadi, enakan ngomong langsung. masalah selesai"
"ga da apa-apa lagi ra.."
"ya udah kalo ga ada apa-apa"
aku ninggalin dia dan masuk kedalam kelas. Yuri dan Rida melihatku tadi
"Lora! kamu ngomong gitu sama Wiwid" kata Rida
"emang kenapa?"
"aku ga berani. abisnya dia suka ngadu ke bapaknya kalo dia diapa-apain"
"emang aku ngapain dia? aku ga mukulin dia. aku emang udah tau dia sering ngomongin aku. jadi aku suruh aja dia ngomong depan aku"
"takut dia tu. sebenernya ga berani kalo ditantang" kata Yuri
"emangnya kalian takut sama Wiwid?"
"iya, ga berani. bapaknya pernah dateng kesini marah-marah soalnya Wiwid ngadu kalo dia dikasarin sama kakak kelas. semenjak itu ga ada yang berani sama dia" Rida cerita
"bapaknya ngamuk" tambah Yuri sambil tertawa
aku tidak peduli sama orangtuanya Wiwid. yang penting, aku mau hidup tenang saja.
dan aku tidak menyangka, semenjak kejadian aku hanya bicara dengan Wiwid, banyak sekali sekarang yang baik kepadaku. yang tadinya kalau lewat didepanku diam saja, mereka jadi menegur dan terkadang duduk bareng denganku. menurut Yuri, aku ini memang kalau bicara membuat orang sakit hati, tapi itu memang sifat aku. dan ucapan kasarku ternyata bermanfaat juga. mereka jadi berpikir tidak perlu 'tunduk' kepada Wiwid lagi kalau ternyata ada orang yang bisa melawannya. berarti mereka juga bisa. diawali dari Yuri dan Rida. aku tidak pernah melihat mereka berdua bertengkar dengan Wiwid, tapi mereka bertengkar mulut dan banyak sekali yang menonton. setelah kutanya, ternyata Wiwid menyebarkan berita bahwa Yuri dan Rida semenjak bergaul denganku sifatnya jadi kasar dan sok kaya. mereka marah. dan melabrak Wiwid habis-habisan. setelah itu Yuri dan Rida, lalu Dona. sahabat baiknya sendiri. menurut Rida, Wiwid sering meminjam uangnya dan tidak pernah dikembalikan. dan akhirnya, setiap orang yang dia sakiti balas menyakitinya lagi. aku setuju sekali. jadi sekarang Wiwid tidak lagi populer. dia hanya siswa biasa sama seperti kita. dia juga tidak pernah bergaya ala orang kota lagi. dan menjadi pendiam. aku mau berteman dengannya. tapi aku bukan tipe orang yang suka memulai. aku lebih suka orang yang memulai lebih dulu daripada aku.

dan ternyata, dimanapun berada aku pasti akan mendapatkan apapun yang tidak aku mau, dan apapun yang aku mau. hidup memang seimbang. Yuri mengumpulkan puisi-puisinya dan mencoba untuk dikirim. sedangkan Rida berlatih paskibraka. aku suka semangat mereka. dan aku memberi mereka pengalamanku sewaktu aku tinggal dikota. aku mengenalkan kepada mereka internet, dan mereka mencari tahu tentang bidang yang mereka minati. aku juga suka puisi sama seperti Yuri, jadi aku belajar menulis puisi bersama dengannya. aku harap suatu hari nanti. apa yang aku impikan bisa terwujud, begitu juga harapan Yuri, Rida, Herly dan Vian. dan walaupun sahabat-sahabatku tidak mengenal satu sama lain, tapi suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu. semoga saja.

finished

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. yup. ..good,artikel..inilah jlan hdup..krna ga slama'y hdup brsma sahabt2 trbaik.. .kta msing2 pnya jln hdup.. .;) lam knal yah.. .

    BalasHapus
  3. Mampirr, slm knal yaaa... langsung follow di Google Followers dan Networked Blogs neh... tlg follow balik yaa... tq >> http://salonoyah.blogspot.com. Btw, Networked Blogs aq ad di bagian "Blog's Environment" ...

    BalasHapus